Pandu Swarga

Pandu Swarga

Pandu


Badan besar Werkudoro gemetaran. Ia baru saja mendapatkan impen bahwa ayahnya Pandu tidak diterima masuk swarga, namun terpenjara di neraka karena dosa-dosanya. Werkudoro pun age-age mengundang saudaranya untuk berembug di hutan dekat Kurusetra. 

Lha dalah, berita berkumpulnya Pandawa di Kurusetra ini pun tersiar sampai ke Hastina. Sengkuni dan Dorna menghasut sejadi-jadinya, menyatakan Pandawa sedang memasang guna-guna agar memenangi perang Baratayudha. Prabu Baladewa pun marah dan sanggup memusnahkan Pandawa. Maka rombongan Kurawa pun berangkat ke Kurusetra diikuti Adipati Karna dan Prabu Baladewa.


Saat Pandawa hadir di Kurusetra,  tampak berjaga-jaga si Gatotkaca dan Antareja. Yudistira, Arjuna, Sadewa dan Nakula sepakat dengan usulan Werkudoro bahwa mereka perlu semedi unutk meminta surga bagi Pandu. Ndilalah pas Pandawa memulai semedi pasukan Kurawa memasuki Kurusetra. Tentu saja Gatotkaca menghadang mereka hingga kocar-kacir. Adipati Karna dikalahkan Antareja dan langsung pulang, sementara Baladewa ngamuk karena tak dijelaskan niat Pandawa. Karena curiga, Baladewa sesumbar hingga Gatotkaca dan Antareja pun menyingkir. Kedigdayaan Baladewa bukan tandingan dua pemuda ini.

Baladewa pun berhadapan dengan Werkudoro. Tapi setelah niat Pandawa dikomunikasikan ke Baladewa, luruh hati Baladewa hingga berjanji akan membantu. Ia pun menarik mundur seluruh bala tentara Kurawa dan Pandawa kembali dalam semedi.

Kahyangan gonjang-ganjing karena ulah semedi Pandawa. Kawah Candradimuka bergejolak hingga timbul gempa dahsyat, sementara Batara Guru sedang murka akibat hasutan Dewa Srani yang ingin memperistri Dewi Dresnala merebutnya dari Arjuna. Batara Guru pun bertitah agar mengambil nyawa Pandawa dan disusulkan ke neraka bersama Pandu.

Titah yang tidak bijak ini pun ditentang Batara Narada. Maka terjadi perpecahan di Kahyangan hingga Batara Narada mengalah, lengser dari jabatan Patih Jonggring Salaka dan mengumbar Batara Guru bertindak tanpa kontrol. 

Dan Pandawa pun diambil nyawanya. Gatotkaca kelabakan dan wadul kepada Semar di Karang Kadempel. Semar pun murka dan berangkat ke Kahyangan.

Sementara itu Batara Wisnu telah dipanggil oleh Batara Guru untuk menghadapi amukan Gajah Raseksa di Kahyangan. Batara Wisnu bertiwikrama, berubah wujud menjadi raseksa segede gunung. Raseksa itu pun bertempur melawan gajah.

Di saat bersamaan, di sebuah tempat seorang pemuda cantik sedang ngangsu ilmu pada Begawan. Begawan ini pun mengajak siswanya naik ke Kahyangan, menuntaskan pendidikannya dan menjajal kedigdayaan.

Di Kahyangan, para Dewa berlarian mendapati amukan semar. Semar masuk kraton dan menampar Batara Guru hingga tak berdaya dan minta ampun. Semar menyeret Batara Guru ke hadapan Sang Hyang Wenang demi meminta keadilan. Sang Hyang Wenang mengabulkan gugatan Semar. Diputuskannya bahwa Batara Guru tidak benar, hiingga Pandawa dan Pandu pun dibebaskan dari neraka. Namun karena telah menimbulkan kekacauan, Semar dituntut menyelesaikan masalah yang timbul.

Di Kawah Candradimuka terjadi pertempuran antara Tiwikrama dengan Gajah Raseksa. Begawan bersama siswa didiknya telah sampai di sana, siswa itu pun memanah Gajah Raseksa hingga berubah wujud menjadi lima wayang Pandawa beserta Pandu Dewanata. Begawan pun berubah menjadi Batara Narada, dan siswa itu pun berubah menjadi Subadra istri Harjuna. Kini Batara Wisnu kembali ke wujud asal, Semar dan Pandawa bersyukur dan Pandu Dewanata pun diijinkan masuk swarga atas pengorbanan anak-anaknya.

Duryudana Gugur

duryudana
Tentara Hastina telah kehilangan panglima perang akibat kematian Prabu Salya di tangan Yudistira. Duryudana lari masuk hutan karena ketakutan hingga kubu Kurawa kocar-kacir tanpa pemimpin. Kesudahannya, para tentara Kurawa menarik diri ke perkemahan. 

Seminggu berlalu tanpa ada kegiatan tempur lagi. Kubu Pandawa sebenarnya selalu siaga dengan tentaranya. Bima masih memimpin peleton penggempur dengan Arjuna di sayap kanan dan Nakula Sadewa di sayap kiri. Namun kubu Kurawa tak tampak menyiapkan dirinya untuk peperangan.

Sepekan berlalu dengan anyep. Beberapa raja dan adipati yang datang dari blok negara pendukung Hastina telah pulang ke tempat asalnya, bahkan beberapa sisa tentara mengaku takluk di hadapan Pandawa. Tentara taklukan ini mengadu ke Pandawa bahwa Duryudana menghilang ke hutan selama sepekan. Sri Kresna pun menyimpulkan bahwa saat untuk mengakhiri Bharatayuda sudah tiba. 

Maka bersama Pandawa, Sri Kresna nglurug ke perkemahan Hastina. Di temukan di sana sisa-sisa tentara yang tak berminat lagi meneruskan perang, dan ketika pengejaran dilakukan, –tanpa kesulitan-- Duryudana dapat ditemukan di dalam hutan. Ia tampak katisen berendam di danau. 

Kedatangan Pandawa tidak ditanggapi sebagai kedatangan musuh. Duryudana bingung hampir mirip wayang linglung, dan saat ditanya apa yang dilakukan, dia mengaku sedang mengenang saudara-saudaranya yang telah gugur mendahului kita. 

Duryudana malah memaparkan rencana yang bakal dia lakoni. “Biarlah tahta Hastina kuserahkan Yudistira saja. Setelahnya akan kubuang diriku ke rimba seperti Pandawa, ngiras pantes sebagai balasan.” 

Mendengar rancangan Duryudana, Yudistira –dengan keadilan dan kebijaksanaannya— menyatakan bahwa ia tak menginginkan Hastina. Baginya cukup Indraprasta. Namun bila Duryudana ingin hal yang berbeda, ia pun diajangi jembar. Duryudana boleh menunjuk satu di antara kelima Pandawa sebagai lawan tanding. Duryudana boleh tetap berkuasa di Hastina jika menang dan Pandawa cukup di Indraprasta. 

Dengan pesan seperti itu Pandawa dan Sri Kresna meninggalakan Duryudana. Duryudana pun mulai memilih-milih lawan tandingnya. 

Baginya, Yudistira cukup sabar walau menguasai ilmu-ilmu yang aneh. “Bisa-bisa aku ditumpes seperti Prabu Salya,” pikir Duryudana tentang Yusdistira. Akan halnya Bima, bagi Duryudana ia musuh utama karena ada dendam. Kekuatannya sebanding dengan Bima tapi, “Aji-aji kekuatannya mbebayani,” begitu kesimpulan Duryudana. 

Sedang Arjuna sudah pasti bukan musuh yang boleh dipilih karena kesaktian dan pusakanya cukup untuk menghabisinya dalam sekejap. Sedang Nakula-Sadewa, lincah dan pintar memainkan pedang dan panah. “Habis aku diiris-iris jadi sate oleh panah mereka,” pungkas Duryudana. 

Hari bergeser pagi dan Pandawa siap di Kurusetra menunggu kedatangan Duryudana. Setiap wayang tampak menyandang senjata komplet kecuali Yudistira. Ia tampak lembeyan tenang tanpa gaman di tangan. 

Tak lama munculah Duryudana. Ia gagah dengan senjata gada. Hadir pula seorang penengah, Prabu Baladewa yang jujur-adil-dan tak memihak. 

Baladewa pun mempersilakan Duryudana segera memilih lawan tanding.

“Aku pilih Bima. Ia paling banyak membantai saudaraku Kurawa. Ia menghirup darah Dursasana dan merobek mulut paman Sangkuni,”  begitu alasannya.

Bima, --yang ternyata juga berharap dipilih-- segera maju membawa gada. 
Sebelum memerintah dimulainya pertarungan, Baladewa mengingatkan agar tarung itu menjadi pertarungan dua ksatria tidak ada pihak ketiga. Kedua pihak pun sepakat.

Maka sabung pun diawali. 

Duryudana bertarung mati-matian dengan harapan merajai Hastina. Ia tak tampak pengecut seperti biasanya. Namun dalam suatu sesi mahkota Duryudana menjadi hancur terhantam gada Bima. Menyusul kemudian tubuh Duryudana yang terpukul. Duryudana terlempar dan terjatuh. 

Tak dinyana, Duryudana yang terlihat kalah masih mampu bangun lagi tanpa menunjukkan kesakitan. Pukulan-pukulan gada Bima berulang-ulang menghantam Duryudana lagi dan melemparkannya lagi dan terjatuh lagi. Duryudana berulang bangkit-bangkit lagi dan … akhirnya Bima yang kelelahan. 

Saat Bima lengah karena lelah, mahkotanya berhasil dihantam gada Duryudana. Mahkota itu hancur. 

Arjuna, karena cemas akan keselamatan saudaranya mendekati Sri Kresna. “Mengapa Duryudana tak bisa dikalahkan Bima?" bisiknya penasaran. 

“Duryudana dulu, sewaktu bayi, pernah mandi air suci. Jangan heran kalau badannya keras seumpama besi. Dipukul pun terasa sakit tapi segera pulih dengan cepat,” terang Sri Kresna.

“Jadi? … Cara mengalahkannya?” Tanya Arjuna cemas. 

“Ia dulu tak mandi dengan sempurna. Paha kirinya tertutup sehelai daun saat mandi, jadi di situlah kelemahannya.” 

Maka Arjuna pun secepatnya memberi kode pada Bima. Ia tepuk-tepuk paha kiri untuk memberi tahu Bima dan … ia faham maksud Arjuna. Ia pun mengeluarkan aji Bayubraja, dihantamnya paha kiri Duryudana dan … Duryudana terguling kesakitan. 

Kali ini Duryudana tak mampu bangkit lagi. Bima menghentikan serangannya karena Duryudana tidak berdaya lagi. Bagi Bima, ksatria tidak dibenarkan menyerang orang yang tiada berdaya. 

Dibiarkan kesakitan tanpa dihabisi, Duryudana berteriak-teriak minta diselesaikan. Dan Sri Kresna pun menasihati Bima agar mengakhiri hidup Duryudana agar tidak menjadi cacat tanpa manfaat sepanjang hayat. Menurut Kresna, justru sebagai ksatria Bima harus menghormati ksatria lain dengan mengakhiri hidupnya, bukan menyiksanya dalam cacat. 

Bima pun segera mendekati Duryudana dan menyudahi hidupnya dengan hantaman gada di kepala. Ya, tepat di kepala. 

Baladewa segera maju ke tengah arena. Ia hentikan pertarungan dengan menyatakan kemenangan Bima. Bharatayuda pun berakhir dengan kemenangan Pandawa.

Kurawa Lahir

Dewi Gendari
Destarastra dirundung sedih lebih-lebih isterinya --Dewi Gendari. Mereka bersedih jalaran kandungan Dewi Gendari sudah berusia tiga tahun namun belum membawa tanda bakal segera lahir.

Dalam masa itu angen-angen Dewi Gendari tak sekalipun lepas dari Prabu Pandu Dewanata. Kebencian mendorongnya berdoa agar bisa menumpas keturunan Pandu –entah kapan waktunya-- sebagai pelampiasan dendam. Isteri Adipati Hastinapura ini senantiasa gelisah dan hampir putus asa akibat memendam dendam serta kandungannya yang tak normal. 

Dewi Gendari tak pernah tentram. Lebih-lebih kini Dewi Kunti --permaisuri Prabu Pandu-- telah melahirkan putera pertama --Raden Puntadewa, bahkan juga hampir melahirkan putera keduanya. 
Kegelisahan Dewi Gendari menjadikan darahnya mendidih. 

Karena gerah ia tak betah tinggal diam di kaputren. Ia melangkah menuruni tangga, menulusuri jalan setapak di rerumputan, menuju tamansari kerajaan Hastinapura. Ngetut di belakangnya empat orang emban pengiring. 

Surya telah condong ke barat, pandang matanya sayu, tak diliriknya keindahan taman. Terus melangkah, tanpa terasa Dewi Gendari sudah melewati gerbang ke tujuh --bagian akhir taman. Dimasukinya taman berisi binatang-binatang buas dan jinak. Tak dipandangnya kolam pualam dan bunga teratai yang ditempati ikan warna-warni dalam biru-jernihnya air. 

Tak diketahui Dewi Gendari, kedatangannya di taman satwa sebenarnya membuat binatang buas jadi beringas, binatang jinak jadi tak jenak, dan unggas merasa was-was. Tengara buruk –entah kenapa— muncul di sana. 

Sehembus angin keras tiba-tiba membuyarkan lamunan Dewi Gendari. Tersadar hadirnya cuaca buruk, Dewi gendari mengajak emban balik ke kaputren. Langkahnya dipercepat karena gerimis, namun suara harimau mengaum begitu keras --membuatnya kaget dan marah. 

Tubuh Dewi Gendari gemetar, wajah pucat, kulitnya berkeringat, … tanpa dinyana … ia melahirkan di tempatnya berdiri, beberapa jengkal menjelang gerbang kaputren.  
Namun ... Dewi Gendari bukan melahirkan bayi wayang.

Yang mbrojol hanyalah segumpal daging berdarah kental,
merah kehitaman,
namun bergerak berdenyut
seperti bernyawa.

Dewi Gendari langsung marah mengetahui telah melahirkan gumpalan daging. Diinjaknya gumpalan hingga pecah, ditendangnya berhamburan, berserak di rerumputan taman. 
Dewi Gendari geram. 
Ia menjerit, mengangis, … kemudian pingsan. 

Saat diusung ke kaputren, Dewi Gendari tak mengetahui lagi bahwa setiap serpihan daging berserakan itu terus berdenyut dan bergerak. 
Begawan Abiyasa datang secara gaib dari pertapaannya. Dimintanya agar Adipati Destarastra memerintahkan abdi menutupi serpihan-serpihan daging dengan godong jati. 

Para emban, --meski dibalut takut dan was-was-- melaksanakan tugasnya menutupkan godong jati pada setiap serpihan daging. Diketahui kemudian jumlah mereka ada 99 keping.  
Suasana taman Hastinapura kini menyeramkan. Segenap binatang buas mengaum-melolong-memekik. Emban ketakutan, bahkan prajurit penjaga malam pun pucat. 

Di tempatnya ditidurkan Dewi Gendari siuman. Ia turun dari tempat peraduan dan menuju pemujaan. Dirapalkannya lagi keinginan berputera banyak. Gerimis air matanya menegaskan kuatnya doa. 

Dan ... ke hadapan Dewi Gendari yang berduka tiba-tiba muncul Batari Durga. Ia menjanjikan, lewat tengah malam nanti bakal terdengar tangis bayi di taman. Dewi Gendari dipesan agar menghampiri bayi wayang puteranya itu. 

Diringi rasa marem, Dewi Gendari makin sesenggukan dalam tangis. Sementara itu Batari Durga menghilang balik ke kahyangan.

Kisah Nabi Yaqub

Nabi Yaqub adalah putera Nabi Ishaq bin Ibrahim. Ia adalah saudara kembar Ishu. Meski bersaudara, hubungan Yaqub dan Ishu tidak rukun. Ishu iri hati terhadap Yaqub karena lebih disayangi oleh ibunya. Hubungan itu makin buruk setelah Yaqub diajukan ibunya untuk diberkahi dan didoakan. Ketika ayahnya minta kedatangan anak-anaknya, Ishu tidak diberitahu ibunya hingga tidak memeroleh berkah doa sebagaimana Yaqub. 
Melihat sikap saudaranya yang dingin, Yaqub mengadu pada ayahnya. "Ayah, tolong nasihati aku bagaimana harus menghadapi saudaraku Ishu yang mendendam dan menyindirku dengan kata-kata yang menyakitkan. Dia marah karena ayah memberkahi dan mendoakan aku agar memeroleh keturunan soleh, rezeki yang mudah dan kehidupan yang makmur. Dia menyombongkan diri dengan dua istrinya dan mengancam bahwa anak-anaknya akan menjadi saingan berat anak-anakku kelak.“ 
Nabi Ishaq berkata, "Wahai anakku, karena lanjut usiaku, aku tidak dapat menengahi kamu berdua. Uban menutupi kepalaku, badanku sudah bongkok, mukaku kisut dan aku sudah di ambang pintu perpisahan. Aku khawatir bila aku menutup usia gangguan Ishu padamu makin meningkat dan mencari kebinasaanmu. Ia disokong saudara iparnya yang berpengaruh. 
Maka jalan terbaik bagimu harus pergi dari negeri ini, berhijrah ke Fadan Araam di daerah Irak. Di sana bermukin bapa saudaramu saudara ibumu Laban bin Batu’il. Engkau dapat mengharap dikawinkan dengan seorang puterinya hingga kuatlah kedudukan sosialmu karena kedudukan mertuamu menonjol di masyarakat."
Yaqub segera berkemas dan meninggalkan rumah. Dengan melalui jalan pasir yang luas, dengan panas matahari yang membakar, Yaqub meneruskan perjalanan seorang diri menuju ke Fadan Araam. Dalam perjalanan yang jauh itu ia sesekali berhenti beristirahat dan tertidur. 
Dalam suatu tidur ia mendapat mimpi dikaruniai rezeki luas, penghidupan yang aman, keluarga dan anak soleh serta kerajaan yang besar dan makmur. Saat terbangun Yaqub sadar bahwa ia hanya mimpi. Namun ia percaya bahwa mimpinya akan jadi kenyataan. 
Akhirnya Yaqub tiba di gerbang kota Fadan Araam. Lega hatinya melihat binatang peliharaan berkeliaran di atas ladang rumput, burung beterbangan dan penduduk hilir mudik mencari nafkah. 
Setelah bertanya, tahulah Yaqub tentang saudara ibunya –Laban. Ternyata ia seorang kaya kenamaan pemilik prternakan terbesar. "Itulah puterinya Laban, ikutilah, ia akan membawamu ke rumah ayahnya. Ia bernama Rahil.” 
Dengan hati berdebar pergilah Yaqub menghampiri gadis cantik itu. Dengan suara terputus ia mengenalkan diri. Maka dengan senang hati disilakan yaqub mengikutinya berjalan menuju rumah Laban. Pertemuan pun terjadi dan kegembiraan mengalir diiringi air mata. 
Setelah beberapa waktu tinggal di rumah Laban, Yaqub pun menyampaikan pesan Ishaq ayahnya agar mereka berbesan.  Laban bersedia mengawinkan Yaqub dengan puterinya namun mesti membayar maskawin harus bekerja di peternakan selama tujuh tahun. 
Tujuh tahun pun berjalan dan Yaqub menagih janji. Laban menawarkan kepada Yaqub agar menyunting Laiya, namun Yaqub lebih memilih Rahil –adik Laiya. Adat kala itu tidak mengizinkan seorang adik melangkahi kakaknya kawin lebih dahulu. 
Maka Laban pun menyarankan agar Yaqub menerima Laiya sebagai isteri pertama dan Rahil sebagai isteri kedua.  Rahil boleh disunting dengan maskawin yang sama, Yaqub harus  menjalani masa kerja tujuh tahun lagi di peternakan. 
Yaqub tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima saran Laban. Begitu masa tujuh tahun kedua berakhir dikawinkanlah Yaqub dengan Rahil --gadis yang menggetarkan hatinya sejak pertemuan pertama tatkala ia masuk kota Fadan Araam. Nabi Yaqub beristeri dua wanita bersaudara yang pada masa itu tidak terlarang --akan tetapi syariat Muhammad s.a.w. mengharamkan hal itu. Yaqub dikaruniai dua belas anak di antaraya Yusuf dan Binyamin.

Kisah Nabi Musa (III)

Nabi Musa dan Bani Israil melintasi lautan
Setelah menyaksikan mukjizat yang diperlihatakan Nabi Musa, Raja Fir'aun bertekad mengalahkan Musa dengan menggunakan ahli sihirnya. Pada suatu hari yang telah disepakati pertandingan sihir pun diadakan. Penduduk kota berkumpul di tempat yang telah ditentukan. Dan ahli sihir Fir’aun pun mulai menunjukan aksinya. 

Mereka lemparkan tongkat dan tali-tali ke tengah lapangan, dan berubahlah jadi ular-ular yang merayap cepat. Allah berfirman pada Musa, "Janganlah engkau merasa takut dan cemas hai Musa! Engkau lebih unggul dan akan menang. Lemparkanlah yang ada ditanganmu segera." 

Saat tongkat Musa berubah jadi ular besar, para ahli sihir pun tercengang. Ular besar itu pun menelan ular-ular hasil sihir mereka. Seketika itu ahli sihir kerajaan pun mengakui mu’jizat Musa bukan ilmu sihir. Mereka menyerah dan bersujud. 

Kata ahli sihir, "Itu bukanlah perbuatan sihir yang kami kenal, tetapi digerakkan oleh kekuatan ghaib yang mengatakan kebenaran kata-kata Musa dan Harun. Kami percaya kerasulan mereka dan beriman kepada Tuhan mereka sesudah melihat apa yang kami saksikan." 

Fir’aun marah mendapati ahli-ahli sihirnya cepat menyerah. "Adakah kamu berani beriman kepada Musa sebelum aku izinkan? Bukankah ini persekongkolanmu dengan Musa? Aku tidak akan membiarkan pengkhianatan ini. Akan aku potong tangan dan kakimu, akan aku salib kamu karena khianat." Ancaman Fir’aun ternyata tidak menakuti mereka. Allah telah membuka mata hati mereka sehingga tidak terpengaruh ancaman Fir’aun. Mereka –sebagai ahli ilmu sihir-- dapat membedakan sihir dan yang bukan sihir. 

Kata ahli sihir itu, "Kami telah memdapat bukti yang nyata dan kami tidak akan mengabaikan kenyataan itu hanya untuk memenuhi kehendakmu. Kami akan megikuti tuntunan Musa dan Harun sebagai pesuruh yang benar. Terserah kepadamu untuk memutuskan terhadap diri kami, keputusanmu hanya berlaku di dunia sedang kami mengharapkan pahala Allah di akhirat." 

Fir’aun tetap keras kepala dan semakin bingung. Musa telah mengalahkan ahli sihirnya dengan mukjizat, dan pengaruhnya meluas sementara kewibawaan Raja merosot. Fir’aun pun merencanakan pembunuhan terhadap setiap lelaki Bani Israil. 

Maka beragam gangguan dan tindakan kejam pun ditimpakan atas Bani Israil. Mereka dianggap rakyat kelas bawah. Karena khawatir atas keamanan hidupnya, mereka mendatangi Nabi Musa dan mengharap perlindungan. Nabi Musa menenteramkan hati mereka dengan menjanjikan akan datangnya waktu ketika Bani Israil bebas dari penderitaan. Mereka diminta sabar dan tawakkal seraya memohon kepada Allah. 

Dakwah Nabi Musa tidak terhambat oleh tindakan Fir’aun, dan pengikutnya tetap bulat mengimani risalah Musa. Karena Nabi Musa dan pengikutnya kian bersemangat menyiarkan iman dan tauhid, Fir’aun memutuskan akan membunuh Nabi Musa. 

Maka dipanggillah para penasihat dan pembesar-pembesar kerajaan untuk merancang pembunuhan Musa. Namun di antara mereka hadir seorang mukmin dari Keluarga Fir’aun yang merahasiakan keimanannya. 

Di tengah perdebatan bangkitlah berdiri mukmin itu, "Apakah kamu akan membunuh seseorang lelaki yang tidak berdosa, hanya karena berkata bahwa Allah adalah Tuhannya? Padahal ia menyatakan iman dan kepercayaannya bukan tanpa dalil dan hujjah. Ia pun mempertunjukkan padamu bukti-bukti yang nyata. Andainya dia pendusta, maka dia yang menanggung dosanya. Jika ia benar, niscaya akan datang azab dijanjikannya padamu. Lalu siapakah yang akan menolongmu dari azab Allah itu?" 

"Rancanganku harus terlaksana dan Musa harus dibunuh,” Kata Fir’aun. 
“Aku tidak mengemukakan padamu melainkan apa yang aku pandang baik dan aku tidak menunjukkan padamu melainkan jalan yang benar, jalan yang akan menyelamatkan kerajaan dan negara."

Berucap si orang mukmin, "Sesungguhnya aku khawatir jika kamu berkeras dan enggan menempuh jalan yang dibawa para nabi, kamu akan ditimpa azab sebagaimana kaum Nuh, kaum Aad, kaum Tsamud dan umat sesudah mereka. Apa yang dialami kaum itu adalah akibat kecongkakan dan kesombongan mereka." 

Mukmin itu meneruskan:"Aku khawatir kamu akan menerima azab di hari kiamat ketika tidak seorang pun dapat menyelamatkanmu. Ikutilah nasihatku. Ketahuilah, kehidupan ini hanya kesenangan sementara, kebahagiaan yang kekal ada di akhirat." 

Orang mukmin keluarga Fir’aun itu tak mampu mengubah sikap Fir’aun dan pengikutnya. Fir’aun bahkan menganjurkannya meninggalkan Musa. Ia diancam kekerasan bila tidak mengubah sikap. 

Berkata mukmin itu, "Wahai kaumku, sangat aneh pendirianmu. Aku berseru untuk kebaikanmu, kamu berseru untuk kufur pada Allah. Aku berseru untuk beriman pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun. Kamu serukan padaku yang tidak akan menolongku dari murka dan siksa Allah di dunia mahupun di akhirat. Sesungguhnya kamu sekalian akan kembali pada Allah yang memberi pahala bagi yang soleh, dan memberi neraka bagi yang kufur." 

Berkata Fir’aun kepada pembesar kerajaannya, "Biarlah aku membunuh Musa dan biarlah ia memohon pada Tuhannya untuk melindungi. Aku ingin tahu sejauh mana ia dapat lepas dari kekuasaanku, biarlah ia membuktikan kebenaran kata-kata bahwa Tuhannya akan melindungi dari tipu daya musuh-musuhnya." 

Fir’aun berkata, "Tidakkah kamu melihat aku memiliki kerajaan Mesir di mana sungai-sungai mengalir di bawah telapak kakiku, sungai-sungai yang memberi kemakmuran dan kebahagiaan rakyatku? Bukankah aku lebih baik dan lebih agung dari Musa. Mengapa Tuhannya tidak memakaikan gelang emas sebagaimana raja, pemimpin atau pembesar?" 

Ketika Fir’aun tetap menentang dakwahnya, Nabi Musa mengningatkan bahwa Allah tidak akan membiarkan mereka terus-menerus melakukan kekejaman. Akan ditimpakan azab dan siksa di dunia semasa hidup mereka sebagai pembalasan yang nyata. 

Berdoalah Nabi Musa, "Ya Tuhan kami, engkau telah memberi Fir’aun dan kerabatnya kemewahan hidup, kekayaan yang meluap dan kenikmatan dunia. Namun semua itu menyesatkan manusia hamba-Mu dari tuntunan yang Engkau berikan. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka. Mereka tidak akan beriman sebelum melihat siksaan-Mu yang pedih." 

Berkat doa Nabi Musa kerajaan Fir’aun dilanda krisis keuangan dan makanan. Sungai Nil mengering tak dapat mengairi sawah dan lading, hama mengganas menghabiskan padi dan gandum yang siap dipanen. 

Sebelum lagi krisis keuangan dan makanan teratasi, datang banjir besar akibat hujan deras, menghanyutkan rumah, gedung, dan membinasakan ternak. Akibatnya berjangkit wabah penyakit. Kemudian datang barisan kutu busuk dan katak yang menyerbu ke rumah sehingga mengganggu ketenteraman hidup, menghilangkan kenikmatan makan, minum dan tidur. 

Pada waktu azab menimpa, datanglah mereka kepada Nabi Musa. Mereka minta pertolongan agar Musa memohonkan kepada Allah dengan janji akan beriman dan menyerahkan Bani Israil kepada Nabi Musa. Akan tetapi begitu bala tercabut, mereka ingkar dan kembali memusuhi Nabi Musa. 

Bani Israil yang menderita akibat tindasan Fir’aun akhirnya sadar bahwa Musalah yang dikirimkan Allah untuk membebaskan mereka dari cengkaman Fir’aun. Maka mereka berduyun-duyun datang kepada Nabi Musa memohon pertolongannya agar dikeluarkan dari Mesir. 

Maka rombongan Bani Israil pun meninggalkan Mesir menuju Baitul Maqdis dipimpin Nabi Musa. Dengan berjalan cepat mereka menghindari bala tentera Fir,aun. Mereka dikejar hingga di tepi lautan merah setelah semalam suntuk melewati padang pasir. Ketakutan melanda Bani Israil ketika melihat laut terbentang di depan mereka sementara di belakang Fir’aun dan bala tentaranya mendekat. Mereka yakin, bila tertangkap pasti dihukum mati. 

Berkatalah Yusha bin Nun, "Wahai Musa, ke mana kami harus pergi?" Jawab Nabi Musa, "Janganlah khawatir dan cemas, perjalanan kami telah diperintahkan oleh Allah, dan Dialah yang akan memberi jalan keluar serta menyelamatkan kami dari cengkaman musuh yang zalim." 

Pada saat kritis, ketika pengikut Nabi Musa ketakutan, sementara Nabi Musa kelihatan tenang, turunlah wahyu Allah agar Musa memukul air laut dengan tongkatnya. Dengan izin Allah lautan pun terbelah dan terbentang dasar laut yang mongering. 

Maka Nabi Musa dan kaum Bani Israil pun melewatinya. Setelah mereka sampai di tepi timur dengan selamat, terlihat bala tentara Fir’aun menyusuri jalan di antara dua belah gunung air. Kembali rasa cemas mengganggu karena masih terus dikejar. 

Setelah Fir’aun dan bala tenteranya berada di tengah lautan yang membelah, kembalilah air yang menggunung itu menutupi jalan yang terbuka. Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam hidup-hidup di lautan. 

Pada detik-detik akhir hayatnya, Fir’aun mengaku percaya bahwa tiada tuhan selain Tuhan Musa dan Tuhan Bani Israil. Ia beriman pada Tuhan mereka dan berserah diri kepada-Nya sebagai seorang muslim.

Berfirmanlah Allah kepada Fir’aun, "Baru sekarangkah engkau berkata beriman kepada Musa dan berserah diri kepada-Ku? Tidakkah kekuasaan ketuhananmu dapat menyelamatkan engkau dari maut? Baru sekarangkah engkau percaya setelah sepanjang hidupmu bermaksiat, melakukan penindasan dan kezaliman terhadap hamba-hamba-Ku. Terimalah pembalasan-Ku yang akan menjadi pengajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu. Akan Aku apungkan tubuh kasarmu untuk menjadi peringatan bagi orang-orang yang meragukan akan kekuasaan-Ku." 

Bani Israil pengikut Nabi Musa masih meragukan kematian Fir’aun. Mereka terpengaruh ajaran Fir’aun bahwa dia akan hidup kekal sebagai tuhan. Setelah tubuh Fir’aun dan orang-orangnya terapung, hilanglah segala tahayul mereka tentang Fir’aun.

Kisah Nabi Musa (II)

Nabi Musa dengan tongkatnya
Sudah lebih sepuluh tahun Musa meninggalkan Mesir sejak ia diburu bala tentara Fir’aun karena menewaskan seorang kaum Fir’aun. Saat itu Musa bermaksud melerai dua orang yang berkelah, namun orang yang dipukulnya langsung mati. 

Kini –lebih 10 tahun sejak ia lari dari Mesir-- Musa sudah beristri dan timbul rasa rindunya pada tanah air. Maka Musa pun --bersama Shafura istrinya— mengadakan perjalanan menuju Mesir. 

Saat sampai di Thur Sina mereka tersesat. Dalam keadaan bingung Fir’aun melihat sinar api menyala- nyala di lereng sebuah bukit. Musa pun berlari mendekati api. Di tempat api itu Musa mendengar suara, 

"Wahai Musa! Aku ini Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci Thuwa. Dan aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan padamu. Sesungguhnya aku ini Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk mengingat Aku." 

Itulah wahyu pertama yang diterima Musa. Dengan wahyu itu Musa dinyatakan sebagai rasulNya. Nabi Musa dibekali dua mukjizat untuk menghadapi kaum Fir’aun. Bertanya Allah kepada Musa, "Apakah itu yang engkau pegang di tanganmu hai Musa?" 

"Ini adalah tongkatku. Aku bertelekan padanya dan aku pukul daun dengannya untuk makanan kambingku." 

Lalu Allah memerintahnya agar meletakkan tongkat di tanah. Serta merta tongkat menjelma jadi seekor ular besar. Ular itu merayap cepat hingga menakuti Musa. Allah berseru, "Peganglah ular itu, Aku akan mengembalikannya pada keadaan asalnya." 

Dan begitu ular ditangkap, ia kembali jadi tongkat sebagaimana diterima dari Syuaib –mertuanya-- ketika ia berangkat dari Madyan. Allah memerintah Musa agar mengepitkan tangannya ke ketiak. Maka tangan itu pun menjadi putih cemerlang. 

Dengan bekal itu Musa diperintah berdakwah kepada Fir’aun. Raja Fir’aun penguasa Mesir telah lama memerintah dengan zalim, kejam dan ganas. Rakyatnya yang terdiri dari bangsa Egypt -- penduduk peribumi-- dan bangsa Israil -- golongan pendatang-- hidup ditindas. Fir’aun juga menyatakan diri sebagai tuhan yang harus disembah dan dipuja. 

Dalam perjalanan kembali ke Mesir Nabi Musa dibayangi ketakutan akan pembunuhan yang tak sengaja telah dilakukannya. Ia khawatir akan dihukum atau dibalas, namun karena rasa rindunya pada tanah air begitu besar, maka timbullah keberaniannya. Apalagi Allah telah berfirman, "Pergilah engkau ke Fir’aun. Sesungguhnya ia telah melampaui batas.” 

Untuk menenteramkan hatinya Musa memohon pada Allah, "Aku telah membunuh seorang daripada mereka, maka aku khuatir mereka akan membalas membunuhku. Berikanlah seorang pembantu dari keluargaku sendiri, Harun, untuk menyertaiku melakukan tugas, meneguhkan hati dan tekadku menghadapi orang kafir. Harun saudaraku itu lebih lancar lidahnya untuk berdebat dan bermujadalah." 

Allah mengabulkan permohonan Musa. Maka digerakkanlah Harun yang berada di Mesir untuk menemui Musa. Mereka pun bersama-sama ke istana Fir’aun. Firman Allah, "Janganlah kamu berdua takut dan khuatir akan disiksa oleh Fir’aun. Aku menyertai kamu berdua dan Aku mengetahui apa yang akan terjadi antara kamu dan Fir’aun. Berdakwahlah kepadanya dengan kata yang lemah lembut, sadarkan ia dari kesesatannya dan ajaklah beriman dan bertauhid, meninggalkan kezaliman dan kecongkakan." 

Dengan melewati beragam rintangan dan waktu, maka datanglah kesempatan bagi Musa dan Harun untuk menemui raja Fir’aun. Bertanya Fir’aun, "Siapakah kamu berdua ini?" 

“Kami --Musa dan Harun-- adalah pesuruh Allah padamu agar engkau membebaskan Bani Israil dari perhambaan dan penindasanmu dan menyerahkan mereka pada kami agar menyembah Allah dengan leluasa dan terhindar dari siksamu." 

Fir’aun pun segera mengenal Musa. "Bukankah engkau Musa yang kami asuh sejak bayi 
hingga remaja, mendapat pendidikan dan pengajaran dan menjadikan engkau pandai? Bukankah engkau melakukan pembunuhan terhadap seorang golongan kami? Sudahkah engkau lupakan semua itu dan tidak ingat akan kebaikan kami kepadamu?" 

"Bahwa engkau telah memeliharaku sejak bayi, itu bukanlah jasa yang membanggakan. Aku jatuh ke tanganmu akibat kekejamanmu memerintah orang-orang menyembelih setiap bayi laki-laki hingga ibu terpaksa mengapungkanku di sungai Nil.

Mengenai pembunuhan yang aku lakukan, itu akibat godaan syaitan yang menyesatkan. Namun di balik itu ada berkah terselubung bagiku. sebab dalam pelarianku Allah mengarunaiku dengan hikmah. Aku diutus sebagai Rasul-Nya. Maka sekarang aku datang padamu atas perintah Allah untuk mengajak engkau menyembah Allah dan meninggalkan kezaliman." 

Fir’aun bertanya: "Siapakah Tuhan yang engkau sebut itu hai Musa? Adakah tuhan selain aku yang patut dipuja?" 

"Ya, yaitu Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu serta Tuhan seru sekalian alam," jawab Musa. 
Tanya Fir’aun: "Siapakah Tuhan seru sekali alam itu?" 

Musa menjawab, "Dia lah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan segala apa yang ada di antara langit dan bumi." 

Fir’aun pun mengatakan bahwa Rasul ini adalah orang yang gila. Kemudia ia bertanya kepada Musa dan Harun, "Siapakah Tuhan kamu berdua?" 

Musa menjawab, "Tuhan kami ialah Tuhan yang telah memberikan kepada tiap-tiap makhluk suatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi petunjuk kepadanya." 

Tanya Fir’aun lagi, "Bagaimana keadaan umat-umat terdahulu yang tidak percaya pada yang engkau ajarkan ini tetapi menyembah berhala dan patung-patung?" 

"Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku. Jika Dia telah menurunkan azab dan siksanya di atas mereka, itu semata-mata karena kesombongan dan keengganan mereka kembali ke jalan yang benar. Jika Dia menunda azab hingga kiamat, maka itu adalah kehendak-Nya dan hikmahnya kami belum mengetahui. Allah mewahyukan kepada kami bahwa azab dan siksanya benar-benar ada." 

Fir’aun gelagapan mendapati dalil-dalil Nabi Musa yang diucapkan secara tegas dan berani. Fir’aun tersinggung dan mengancam Musa, "Jika engkau mengakui tuhan selain aku, engkau akan kumasukkan dalam penjara." 

Jawab Musa, "Apakah engkau tetap akan memenjara aku seandainya aku berikan bukti kebenaran dakwahku?" 

"Datangkan saja bukti-bukti yang nyata jika engkau benar-benar tidak berdusta." 

Maka Musa pun menunjukkan mukjizat kepada Fir’aun. Ia letakkan tongkatnya, dan tiba-tiba menjelma jadi ular besar yang menghalau Fir’aun. Fir’aun ketakutan dan melompat dari singgasananya. "Hai Musa, demi asuhanku padamu selama delapan belas tahun, panggillah kembali ularmu itu." 

Maka dipeganglah ular itu oleh Musa dan kembali ia menjadi sebuah tongkat. 
"Adakah bukti lain yang dapat engkau tunjukkan?" 

"Lihatlah," jawab Musa sambil memasukkan tangannya ke dalam saku baju. Ketika dikeluarkan, tangan itu menyilaukan Fir’aun itu dan orang-orang di sekelilingnya. 

Fir’aun yang mengangkat dirinya sebagai tuhan menyatakan bahwa mukjizat Musa hanyalah sihir biasa. Maka Fir’aun pun mendatangkan ahli sihir untuk bertanding melawan Musa dan Harun. Dan Musa, demi mendapat tantangan Fir’aun, tanpa ragu menerima tantangan itu.

Kisah Nabi Musa I

Bayi Musa ditemukan keluarga Fir'aun
Raja yang memerintah Mesir pada masa kelahiran Nabi Musa adalah raja yang kejam. Ia memerintah dengan keras, menindas dan sewenang-wenang terutama pada Bani Israil. Raja Fir’aun hidup bergelimang kesenangan duniawi dan mengumumkan diri sebagai tuhan yang harus disembah. 

Suatu saat Fir’aun dikejutkan ramalan ahli nujum kerajaan. Menurutnya seorang bayi lelaki dari kalangan Bani Israil akan lahir dan menjadi musuh kerajaan, bahkan membinasakan Fir’aun. 

Raja Fir’aun pun memerintahkan semua bayi lelaki di Mesir dibunuh.  Maka setiap rumah dimasuki dan perempuan hamil jadi perhatian saat melahirkan. Raja Fir’aun baru tenang setelah wilayah kerajaannya bersih, tak seorang pun bayi laki-laki yang masih hidup. 

Sementara itu Yukabad, isteri Imron bin Qahat bin Lawi bin Yaqub melahirkan bayi lelaki. Betapa kuatir ia akan nasib bayinya. Namun bidan yang membantunya melahirkan sanggup merahasiakan kelahiran bayi itu. Hingga usianya mencapai tiga bulan, Yukabad mengikuti perintah Allah, yaitu menyembunyikan bayinya ke dalam peti dan mengapungkannya di sungai Nil. Yukabad tidak bersedih karena Allah menjamin akan mengembalikan bayinya bahkan akan mengutusnya sebagai rasul. 

Kakak Musa mengawasi peti yang dihanyutkan dan melihat adiknya ditemukan oleh puteri raja. Bayi itu dibawa ke istana dan diserahkan pada ibunya, isteri Fir’aun. Karena ketakutan, Yukabad hampir membuka rahasia tentang peti itu sebelum diteguhkan hatinya oleh Allah. 
Raja Fir’aun segera memerintah membunuh bayi itu. Ia khawatir inilah bayi yang diramalkan jadi musuh dan membinasakan kerajaan besarnya. Akan tetapi isteri Fir’aun terlanjur sayang terhadap bayi itu. Maka selamatlah nyawa nabi Musa. 

Nama Musa diberikan kepada bayi itu oleh keluarga Fir’aun. Mu berarti air dan Sa bermakna pohon, jadi Musa berarti air dan pohon sesuai tempat ditemukannya bayi itu. Untuk bayi itu didatangkan beberapa inang yang akan menyusui, akan tetapi bayi Musa menolak semua inang. Saat isteri Fir’aun bingung mencari inang, kakak Musa pun menawarkan ibunya. Sejak saat itu ibu kandung Musa menjadi inang bayaran dan terlaksanalah janji Allah untuk menyatukan kembali ibu dan bayinya. 

Musa dididik di kerajaan dan dikenal sebagai Musa bin Fir’aun. Ia jadi keluarga kerajaan hingga dewasa dan dikaruniai hikmah serta pengetahuan oleh Allah. 

Selain kesempurnaan rohani, Musa dikaruniai kesempurnaan tubuh dan jasmani. Ia sadar sebagai anak pungut dan tidak setitik pun darah Fir’aun mengalir dalam tubuhnya. Ia sadar sebagai keturunan Bani Israil yang ditindas dengan sewenang-wenang oleh kaum Fir’aun. Ia pun berjanji akan membela kaumnya yang tertindas. 

Suatu ketika Musa menjumpai dua orang berkelahi. Seorang Bani Israil bernama Samiri dan seorang dari kaum Fir’aun bernama Fatun. Musa mendengar teriakan Samiri meminta pertolongan karena musuhnya lebih kuat dan besar. Musa pun melontarkan pukulan dan seketika itu Fatun jatuh rebah, menghembuskan nafas yang terakhir. 

Musa terkejut melihat Fatun --orangnya Fir’aun-- mati karena pukulannya tidak dimaksudkan untuk membunuh. Ia pun mohon ampun pada Allah, namun peristiwa itu terlanjur jadi pembicaraan ramai. Mereka menuntut agar pelakunya dihukum berat. Keamanan kerajaan pun akhirnya dikerahkan ke pelosok kota untuk mencari orang yang membunuh Fatun. 

Saat Musa menyembunyikan diri, ditemukannya lagi Samiri yang –lagi-lagi-- sedang berkelahi. Musa bermaksud mengingatkan Samiri agar tidak berkelahi, namun Samiri ketakutan dan mengira akan dibunuh. Teriakan Samiri pun didengar orang, hingga ramai mengetahui bahwa Musa lah yang memukul Fatun hingga tewas. 

Ketika Fir’aun mengatur rencana penangkapan Musa, seseorang menasihatinya agar segera meninggalkan Mesir. Maka Musa pun segera pergi dari Mesir seorang diri. Setelah berjalan beberapa hari Musa pun tiba di kota Madyan --kota tempat tinggal Nabi Syuaib di timur jazirah Sinai dan teluk Aqabah di selatan Palestin. Nabi Musa istirahat di bawah pohon tanpa tahu akan pergi ke mana. 

Nabi Musa menyaksikan sekumpulan penggembala berdesakan mengelilingi sumber air, sementara tak jauh dari sana dua orang gadis menunggu giliran memberi minum ternaknya. Musa --karena rasa ibanya-- mengambilkan air untuk kedua gadis itu agar diminumkan pada ternaknya. 

Pengalaman itu pun diceritakan kedua gadis pada ayah mereka –Syuaib-- hingga Musa dipanggilnya datang ke rumah. Di rumah itulah Musa mengisahkan peristiwa yang dialaminya di Mesir. Selanjutnya Musa ditampung di rumah Syuaib hingga dikagumi keberaniannya, kecerdasannya, kekuatan jasmaninya, perilakunya, budi perkerti dan akhlaknya yang luhur. Maka Musa pun dipekerjakan sebagai pembantu. 

Dalam perjalanan waktu, Musa pun dikawinkan dengan seorang putri Syuaib –Shafura—dan sebagai maskawin Musa harus bekerja sebagai pembantu selama beberapa tahun. Musa dan Shafura juga mendapatkan hadiah perkawinan beberapa ekor kambing.

Sunan Drajad alias Raden Qosim

Sunan Drajad alias Raden Qosim alias Raden Qosim adalah adik dari Sunan Bonang alias Raden Makdum Ibrahim, keduanya putra Sunan Ampel dan Dewi Condrowati. Sunan Drajad menguasai ilmu yang cukup dari ayahnya untuk berdakwah di antara Tuban dan Gresik. 
Perjalanan Sunan Drajad dimulai dengan perahu, namun sebuah ombak menghantamnya hingga hancur. Raden Qosim mencapai daratan dengan bantuan seekor ikan talang. Sunan Drajad –karena itu- memiliki pesan agar keturunannya tidak makan ikan talang. 
Sunan Drajad mendarat di pantai Jelag (sekarang desa Banjarwati kecamatan Paciran). Di sana Sunan Drajad disambut masyarakat dengan antusias, lebih-lebih setelah diketahui sebagai putra Sunan Ampel -seorang Wali besar kerabat keraton Majapahit. 
Di desa Jelag Sunan Drajad mendirikan Pesantren, menyiarkan agama Islam dengan dan mengajar banyak santri. Satu tahun setelah itu Sunan Drajad boyongan ke arah selatan, mendirikan surau dan meneruskan dakwahnya. Tiga tahun kemudian Sunan Drajad membangun tempat dakwah yang lebih strategis, di tempat ketinggian yang disebut Dalem Duwur, di sebuah bukit yang sekarang dibangun Museum Sunan Drajad. Makam Sunan Drajad ada di sebelah barat Museum ini. 
Sunan Drajad mendukung aliran putih seperti Sunan Giri. Agama Islam disebarkan dengan tidak mencampurkannya dengan adat dan kepercayaan lama, meskipun kesenian rakyat digunakannya sebagai alat dakwah sebagai wujud penghargaannya pada kesenian Jawa. 
Sunan Drajad alias Raden Qosim seorang Wali yang hidupnya paling bersahaja, rajin mencari rezeki dan dermawan. Ajaran beliau yang terkenal adalah Menehono teken marang wong wuto, Menehono mangan wong kang luwe, Menehono busono wong kang wudo, lan Menehono ngiyup wong kang kudanan. Ajaran ini sangat simpel, dapat diamalkan siapapun sesuai tingkatannya. Bahkan pemeluk agama lainpun tidak keberatan mengamalkan ajaran ini. 
Semua ini mengukuhkan Dinasti Demak sebagai simbol kebesaran umat Islam kala itu. Sunan Drajad dikenal sebagai ahli ukiran dan pencipta gending Pangkur. Gelar Sunan Drajad diberikan pada beliau karena tinggal di bukit yang tinggi, melambangkan tingkat ilmunya yang tinggi, yaitu derajat ulama muqarrobin -dekat dengan Allah swt.