Khalid bin Walid Tak Mau Mati di Tempat Tidur

Perang besar kaum muslimin melawan Romawi tinggal menunggu aba-aba. Kekhawatiran kaum muslim bakal disambut pasukan yang kuat sudah terjawab. Pasukan Romawi puluhan ribu jumlahnya, jauh berlipat-lipat dibanding pasukan muslim yang datang menantangnya.
Namun Khalid bin Walid telah menanamkan “tsabat” dalam jiwa pasukannya, yatu tabah dan disiplin. Haram hukumnya bagi pasukan muslim meninggalkan arena peperangan sebelum usai. Dalam pandangan Khalid, larinya dua tiga orang prajurit pasti menimbulkan kepanikan. Satu dua orang pengecut seperti itu cukup untuk mendatangkan kekalahan fatal dan bencana.
Karena beberapa pasukan muslim adalah mualaf, kejadian seperti itu sangat mungkin ditemukan. Untuk mencegahnya, Khalid bin Walid sangat tegas dalam mengambil sikap. Maka ditempatkannya perempuan-perempuan muslimah bersenjata di belakang pasukan muslim.

Sengsara Drupadi karena Dadu

Yudhistira kalah taruhan. Hartanya beralih ke tangan Kurawa, begitu juga kerajaannya, pun adik-adik dan dirinya sendiri. Bahkan isitrinya pun, Drupadi, sudah dipertaruhkan dan kalah. Drupadi kini diambil Dursasana dengan diseret-dijambak rambut panjangnya.
Drupadi menjerit sejadi-jadinya namun Yudhistira membisu. Arjuna, Nakula dan Sadewa pun membeku. Bima menahan marah dalam gerahamnya yang gemeretak.
”Aku maklum saat kami  -adik-adikmu-  kau jadikan barang taruhan. Kamu kakak mbarep dan kami adikmu, jadi kami manut. Kami rela jadi budak karena pertaruhanmu. Saat kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami diam. Itu badanmu. Tapi Drupadi kamu lepas juga. Adakah kamu punya hak atas dirinya?”

Wafatnya Saad menggetarkan Arsy

syahid

Dalam sebuah perhentian di antara perjalanan menuju Badar, Rasulullah berkhutbah di hadapan sahabat, kemudian bertanya, “Bagaimana pendapat kalian?” Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, telah sampai berita kepadaku bahwa Quraisy itu demikian dan demikian, begini dan begitu.”
Rasulullah meneruskan khutbahnya dan bertanya lagi, “Bagaimana pendapat kalian?” Umar menjawab seperti jawaban Abu Bakar.
Lalu Rasulullah menambahkan khutbahnya dan bertanya sekali lagi, “Bagaimana pendapat kalian?”
Saad bin Muadz menjawab, “Wahai Rasulullah, apakah Anda menginginkan jawaban dari kami kaum Anshar?

Saad bin Muadz

Saad bin Muadz dalam kisah ini adalah Saad bin Muadz bin Salman bin Imril Qois al-Anshari al-Asyhali dan ibunya adalah Kabsyah bin Rafi’ bin Ubaidah bin Tsa’labah. Saad bin Muadz merupakan sahabat anshar dari Madinah. Posturnya tinggi-besar dan tampan, seorang sahabat paling tinggi dan besar berkulit putih berjanggut rapi.
Saad berasal dari Bani Asyhal yang memiliki pengaruh besar. Ia memeluk Islam 1 tahun sebelum kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah, saat usianya 31 tahun.

Imam Syafii Manusia Paling Berilmu

Imam Syafi'i
Imam Syafii memilki nama lengkap Muhammad bin Idris asy-Syafii. Beliau telah memulai kajian untuk meringkas banyak teks yang konsekuensi hukumnya sama menjadi formula yang lebih sederhana. Ilmu itu disebut ushul fiqih. Hingga sekarang ilmu ini dipakai para ulama untuk menyimpulkan hukum atas  sesuatu.
Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf. Nasab Imam Syafii bertemu nasab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek mereka Abdu Manaf. Imam Syafii adalah laki-laki Quraisy asli, ibunya seorang dari Bani Azdi atau Asad.

Asal Usul Nama Surabaya

Dahulu sekali perkelahian antar binatang besar sering terjadi karena berebut mangsa atau berebut lahan kekuasaan. Dan perkelahian paling dahsyat antar binatang yang pernah ada, terjadi antara Ikan Hiu Sura melawan Buaya.
Kedua binatang ini dikenal sebagai binatang terkuat, hingga adu jotos pun tak cukup terjadi sekali dua kali. Perkelahian yang terjadi sedahsyat-dahsyatnya sering diwarnai adu kecerdikan, adu keganasan dan adu kecepatan. Perkelahian tanpa pemenang itu berulang kali terjadi dan sering berlangsung selama beberapa hari.

Umar bin Khattab, Kesederhanaannya Memesona Musuh

Umar Ibn Khattab
Tahun 637 pasukan muslim dibawah komando Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid menaklukkan kota Jerusalem. Sebagaimana diperintahkan Rasulullah SAW, pasukan muslim diharamkan membunuh rahib, orang tua, wanita, anak-anak, dan orang sipil bukan tentara yang bersikap damai. Muslimin yang berperang juga dilarang menebang pohon, membunuh ternak dan merusak ladang, dilarang menghancurkan gereja, merusak rumah apalagi fasilitas umum. Konon perilaku seperti ini dikagumi para pastor Kristen di Jerusalem kala itu.
Meski kagum, sebagai musuh mereka tetap khawatir kotanya bakal dirusak.

Dongeng Putri Tujuh

Dahulu sekali di Dumai berdiri Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Ratu Cik Sima, pemimpin kerajaan ini memiliki tujuh putri yang elok rupawan, dikenal dengan sebutan Putri Tujuh. Meski ketujuh putrinya cantik-cantik, putri bungsu yang bernama Mayangsari dikenal paling cantik.
Putri Mayangsari memiliki tubuh indah nan memesona. Kulit lembutnya bagai sutra, wajah eloknya berseri bagai purnama, bibir merahnya sebagai delima. Alis hitamnya diumpamakan semut beriring, dan  rambut hitamnya panjang ikal terurai umpama kembang mayang. Mayang Mengurai sering jadi panggilannya menggantikan namanya.
Suatu hari ketujuh putri ini mandi di lubuk Sungai Sarang Umai. Mandinya begitu asyik sampai tidak disadari ada beberapa mata mengamati.