Pandowo Ngenger

pandowo
Sebuah pasamuwan agung berlangsung di Negeri Hastina  dirawuhi para petinggi kerajaan mulai dari Resi Bisma, Pandhita Durna, Patih Sengkuni, Adipati Karno dan beberapa wayang sanes. Kala itu perbincangan menyoal masa depan kerajaan Hastina dalam menghadapi musuh bebuyutannya, Pandowo. Raja Duryudono ngawiti perbincangan dengan menyampaikan tuduhan, Pandita Durna sudah berlaku abot sih dengan memberikan ilmu kadigdayan yang tidak seimbang pada murid-muridnya. Perbincangan itu pun meruncing pada ide mencelakakan Pandowo. Adipati Karno yang mencoba ngelingne buruknya ide itu malah diserang hingga meninggalkan pertemuan.

Maka rencana pun dijalankan. Pandowo diundang ke perjamuan makan. Lima bersaudara itu dijamu makan-makan serta minum miras. Dan saat Pandowo mendem karena pengaruh alkohol itulah terjadi bentrok, hingga perang antar dua kubu pun pecah. Destarata sebagai penengah meminta Pandowo menyingkir demi mencegah perang  susulan. Pandowo mengalah dan meninggalkan Hastina, namun Kurawa terus nguber-nguber ingin memusnahkannya.

Saat menyingkir menjauhi Hastina, Arjuna dan para punokawan didatangi Batara Indra dan mengajak mereka ke Kayangan. Di sana Arjuna diberi petunjuk agar ngenger di Kerajaan Wirata dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Maka  Mereka pun menyandang nama baru. Puntadewa berganti nama jadi Kanta, Werkudoro menyandang nama Balawa, Arjuna berubah Wrihatmolo, Nakula dan Sadewa masing-masing Tripala dan Grantika. Drupadi mengubah namanya jadi Salindri atau Endang Malini.

Pandawa pun datang ke Wirata. Saat itu patih Kencoko dan para hulu balang mengecam kerajaan Wirata pimpinan Prabu Matsyapati. Patih Kencoko mengklaim nama kerajaan Wirata menjadi masyhur karena kehebatan dirinya. Karena itulah mereka menganggap pantas melakukan kudeta untuk menggulingkan Matsyapati.

Kedatangan Pendawa ke Wirata ternyata tidak disambut baik. Mereka tidak diperkenankan ngenger di kraton bersama Matsyapati melainkan diarahkan ngenger di Kepatihan. Di tempat ini kecantikan Salindri alias Drupadi ternyata ndodog hati Patih Kencoko. Saat patih ngeres itu akan berbuat tidak senonoh, murkalah Balawa alias Werkudara hingga membunuh patih Kencoko. Pembunuhan ini ternyata direstui  prabu Matsyapati hingga keluarga Pandowo pun diterima untuk tinggal di lingkungan kraton Wirata. Mereka menjadi abdi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar