Kisah Kumbakarna

Kumbakarna
Arya Kumbakarna kuwi  adik Rahwana, putra kedua Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Sejak negaranya terlibat peperangan, bahkan semenjak terjadi perbedaan pendapat dengan Rahwana tentang Dewi Sinta, Kumbakarna ngalah dengan menyingkir ke Leburgangsa, mengasingkan diri dalam pertapaan. Kini ketika Alengka semakin terjepit, Rahwana mendesak Kumbakarna untuk terjun ke medan laga saderma  menyelamatkan negara karena hampir semua senapati telah kawon  dan gugur. Maka berangkatlah Indrajit sebagai utusan pembawa perintah kepada Kumbakarna.
Tak mudah bagi Indrajit untuk nggugah  Kumbakarna dari tapa tidurnya. Ketika berbagai cara yang ditempuh telah gagal membangunkan Kumbakarna, akhirnya dicabutlah rambut di ibu jari wayang itu. Cara  ini ternyata ampuh hingga bangunlah si raksasa terpuji. Indrajit pun menyampaikan misinya, dan ndesek Kumbakarna menemui Rahwana di Alengkadiraja.
Kepulangan adik yang arif ini kontan disambut Rahwana dengan jamuan makan besar-besaran.  Kumbakarna disuguh aneka menu pilihan, semuanya lezat dan jumlahnya pun sangat melimpah. Baru setelah acara makan usai, Rahwana mengajak bicara Kumbakarna dan menyampaikan maksudnya.
Kumbakarna dihina dan dihardik, dinyatakan sebagai keluarga kerajaan yang ora tresna  negeri sendiri maupun  kakaknya yang jadi raja. Karena tak nyaman mendengar makian itu, Kumbakarna  menyatakan niatnya cancut tali wanda ke tengah peperangan. Dinyatakannya terang-terangan bahwa dia tidak akan berperang untuk membela sang kakak, namun semata-mata membela negerinya dari ancaman musuh. Seandainya kalah dan mati, ia ingin dikenang sebagai  ksatria, sama sekali bukan pembela Rahwana sang angkara murka.
Adik Rahwana yang lain, Wibisana, tak kuasa menahan haru  menyaksikan kepergian Kumbakarna menuju medan perang. Kumbakarna menyandang pakaian serba putih, Wibisana meneteskan air mata dan menghampiri sang kakak untuk memintanya mengurungkan niat budal perang. Wibisana tak rela mendapati Kumbakarna  mati sia-sia demi Rahwana. Dengan niat tulus membela negeri, Kumbakarna bersikeras dan menganggap perangnya melawan Rama sebagai perang suci.
Keberanian Kumbakarna dan keluhuran budinya sangat dihormati, termasuk oleh musuh-musuhnya. Nalika  Kumbakarna menghadapi Prabu Sugriwa, gampang ditebak bahwa Sugriwa segera terdesak bersama pasukan wanaranya. Demi menyelamatkan Raja Kiskenda itu, ia ditarik mundur dari peperangan agar tak mati di tangan Kumbakarna yang sakti.
Sementara Wibisana, adik Rahwana yang berpihak pada Rama memberikan saran untuk membendung amukan Kumbakarna. Maka Rama dan Leksmana pun menghujani Kumbakarna dengan ribuan anak panah, hingga pegat kedua tangan dan kakinya.
Yang sungguh membuat trenyuh, meski Kumbakarna kehilangan tangan dan kaki, ia tidak mundur sama sekali. Dengan badan tanpa anggota, Kumbakarna menggelinding maju untuk nyemprot hawa  panas ke tengah-tengah pasukan Rama. Sri Rama pun melepaskan sebuah anak panah ke tubuh Kumbakarna hingga terpenggallah leher sang raksasa. Alengkadiraja kehilangan salah satu sosok terbaiknya, Rahwana kehilangan  wayang yang dibanggakan, namun kejahatan Rahwana tetap tanpa suda.

1 komentar: