Tampilkan postingan dengan label dongeng manca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng manca. Tampilkan semua postingan

Abu Nawas Mengalahkan Jebakan Ayam Betina

raja harun
Sudah bertahun-tahun Raja Harun Al Rasyid ingin mengalahkan Abu Nawas. Namun perangkap yang dibuat selalu bisa diatasi dengan cemerlang oleh Abu Nawas. Meski begitu Baginda Raja tidak putus asa, ada puluhan jaring muslihat untuk menjerat Abu Nawas. 

Suatu sore yang cerah Baginda Raja dan para menterinya berendam di kolam. “Aku punya akal untuk menjebak Abu Nawas.” 

“Apakah itu wahai Paduka yang mulia?” tanya seorang menteri. 

“Kalian tak usah tahu dulu. Datanglah besok sebelum Abu Nawas datang. Aku akan mengundangnya mandi bersama kita.” 

Raja Harun Merindukan Abu Nawas

kerajaan milik raja harun
Suatu ketika Raja Harun Al Rasyid pergi haji. Saat tiba di kota Kuffah tiba-tiba dilihatnya Abu Nawas berlari ke sana ke mari mengendarai sebatang kayu. Beberapa anak tertawa-tawa menirukan polah Abu Nawas. Raja Harun tersenyum gembira melihat hal ini karena sudah dua bulan lebih ia merindukan Abu Nawas. Kerinduannya muncul gara-gara menghilangnya Abu Nawas dari kerajaan untuk memprotes ketidakadilan dan kesombongan Raja Harun Al Rasyid.

“Pengawal! Siapa orang itu?" Tanya Raja.
"Dia Abu Nawas," jawab seorang pengawal.
"Coba panggil ke sini. Usahakan jangan terlihat orang, dan jangan berlaku kasar padanya,” perintah Raja Harun.
"Baiklah." 


Tidak butuh waktu lama untuk menghadirkan Abu Nawas ke hadapan Raja Harun Al Rasyid. Ia pun langsung diperkenankan duduk di hadapan Raja.
"Salam bagimu wahai Abu Nawas," sapa Raja Harun Al Rasyid.
"Salam kembali wahai Amirul Mukminin," jawab Abu Nawas.
"Tahukah kamu, kami merindukanmu," kata Raja Harun.
"Ya, tetapi aku tidak merindukan Anda," jawab Abu Nawas. Jawaban ini seperti sebuah tamparan

Cinderella

cinderella
Di sebuah negeri yang makmur hidup seorang anak perempuan cantik berhati baik. Ia tinggal bersama ibu tiri dan dua kakak tirinya. Di rumahnya sendiri itu ia sudah seperti seorang pembantu, selalu harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Itu pun masih dengan perlakuan kasar serta jatah makan yang hanya satu kali sehari. Kakak-kakaknya yang jahat memanggilnya Cinderella, artinya gadis kotor yang berdebu. "Nama yang cocok buatmu," kata mereka cekikikan.

Kehidupan seperti itu berlangsung terus hingga suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan surat undangan pesta dari Istana. Undangan itu menyebutkan, siapapun boleh menghadiri pesta yang diadakan pangeran, karena Pangeran sedang mencari pasangan untuk diperistri. 

Sam Pek Eng Tay

sepasang kupu-kupu
Di propinsi Zhejiang, Cina jaman dulu, hidup keluarga Zhu yang kaya dan terpandang. Mereka dianugerahi seorang putri cantik bernama Cuk Eng Tay. Sesuai tradisi, Eng Tay dilarang keluar rumah. 

Karena ingin bisa sekolah seperti kaum laki-laki, Eng Tay berusaha membujuk ayahnya. Suatu hari Eng Tay jatuh sakit dan mengurung diri di kamar. Ketika Tuan Zhu mengutus pembantunya memanggil seorang peramal, saat itulah rencana Eng Tay dijalankan.

"Tuan Zhu, saya sarankan anda mengirim putri eng Tay ke sekolah di luar kota. Percayalah, hanya itu obat yang bisa menyembuhkannya."
"Tidak mungkin! Bukankah seorang gadis tidak perlu sekolah?!" kata Tuan Zhu gusar.
Serta-merta peramal itu membuka jubah yang menutup badan dan kepalanya, dan ternyata ia adalah Eng Tay. 

Abu Nawas dan Monyet yang Gigih

monyet cerdas
Abu Nawas sedang berjalan-jalan tanpa tujuan saat melihat kerumunan orang. Abu Nawas yang ingin mengetahui kerumunan itu pun mendekat sambil bertanya pada kawan yang ada di sana.
“Apa itu yang ada di sana?”
“Pertunjukkan monyet keliling. Monyetnya cerdas sekali.”
“Cerdas bagaimana maksudnya?” tanya Abu Nawas.
“Monyet itu ngerti bahasa kita. Hebatnya lagi, monyet itu hanya tunduk pada majikannya,” kata kawan Abu Nawas.

Karena penasaran Abu Nawas pun memasuki kerumunan itu. Sang pemilik monyet menantang penonton dengan hadiah yang cukup besar asalkan bisa membuat monyet itu mengangguk-angguk.

Abu Nawas Memindahkan Istana

Raja Harun Al Rasyid
Baginda Raja tergelitik memindahkan istananya di atas gunung. Ia ingin bisa menikmati pemandangan sekitar tanpa harus pergi ke tempat yang jauh. Tanpa membuang waktu dipanggilnya Abu Nawas. 
 “Abu Nawas, … engkau harus memindahkan istanaku ke atas gunung. Aku mau melihat seluruh negeriku dari istana. Sanggupkah engkau melakukan tugas ini?” tanya Baginda sambil melirik.
Abu Nawas tidak langsung menjawab. Ia berpikir keras hingga keningnya berkerut. Pikirnya, “Tidak mungkin menolak perintah Baginda kecuali ingin dihukum.”
“Raja Sulaiman pun bisa melakukan ini,” kata Raja mengingatkan Abu Nawas.
Dengan terpaksa Abu Nawas pun menyanggupi proyek aneh itu. “Baiklah Baginda,” katanya berat.

Abu Nawas Menembus Hujan

kuda abu nawas menembus hujan
Abu Nawas pernah menghancurkan barang-barang di istana tanpa bisa dicegah Baginda Raja. Keinginan Raja untuk menangkap Abu Nawas dan menjebloskannya ke penjara begitu besar. Maka dibuatlah perintah agar Abu Nawas bisa dipersalahkan. 
Maka Baginda mengajak Abu Nawas berburu beruang. Abu Nawas tak berani menolak meskipun ia sangat takut pada beruang.
Setelah persiapan dibuat, perburuan pun dimulai. Namun perjalanan menuju hutan itu rasa-rasanya akan terhalang karena tiba-tiba cuaca berubah mendung. 
Baginda Raja pun memanggil Abu Nawas. “Tahukah engkau mengapa kupanggil menghadap?” tanya Baginda tanpa senyum. 
 “Ampun Baginda, hamba belum tahu.”
“Sebentar lagi akan turun hujan tapi hutan masih jauh. Apapun yang terjadi, nanti saat tiba waktunya santap siang kita harus berkumpul di peristirahatanku. Nah, … demi kelancaran perjalanan, sekarang kita berpencar. Ingat, jangan sampai menghadiri santap siang dengan baju basah.”

Abu Nawas dan Empat Penipu

abu nawas
Abu Nawas bermaksud menjual keledainya untuk mendapatkan uang. Maka ia pun pergi ke pasar pagi-pagi agar segera memeroleh uang yang dibutuhkan. Tanpa disadari Abu Nawas, empat orang penipu berdiri mengintainya. Keempat orang itu pun merencanakan sebuah tak-tik untuk mengelabuhi Abu Nawas.
Ketika Abu Nawas istirahat di bawah rindangnya pohon, seorang penipu mendekatinya dan mengaku ingin membeli kambing yang dibawa Abu Nawas. Abu Nawas bersikeras bahwa binatang yang dibawanya bukan kambing melainkan seekor keledai Maka ia pun melanjutkan perjalanan menuju pasar.
Di tengah perjalanan Abu Nawas kembali dihentikan penipu kedua dan ketiga. Kedua orang berkomplot ini berusaha meyakinkan Abu Nawas bahwa yang hendak dijualnya adalah kambing, bukan keledai. Keduanya berminat membeli kambing itu. Karena sudah ada tiga orang yang menyebut keledainya sebagai kambing, Abu Nawas mulai ragu. Namun ia meneruskan perjalanannya ke pasar dengan sedikit sisa keyakinan bahwa ia sedang menjual keledai, bukan kambing.
Sebelum Abu Nawas sampai di pasar lagi-lagi ia didatangi penipu, kali ini yang keempat. Dengan mantap orang ini meyakinkan Abu Nawas bahwa kambing yang dibawanya akan dibeli.
"Wah, … bagus sekali kambingmu. Berapa harganya?" "Kau yakin ini seekor kambing?" tanya Abu Nawas ragu.
Setelah tawar-menawar berlangsung, Abu Nawas akhirnya menjual keledai yang dibawanya kepada penipu keempat dengan harga seekor kambing. Hatinya galau, perasaannya tak menentu, ia ingin marah telah terlanjur menjual keledainya dengan harga terlalu murah. Maka ia pun berjalan pulang sambil memikirkan cara memberikan balasan.
Terpikir oleh Abu Nawas untuk balik ke pasar agar bisa mengerjai komplotan penipu yang merugikannya. Maka Abu Nawas pun pergi mencari kayu dan menjadikannya sebagai tongkat. Maka dengan tongkat buatannya ia pun pergi ke pasar lagi.
Tak berapa lama beredar kabar bahwa Abu Nawas memiliki sebuah tongkat yang ajaib dan bertuah. Berita itu pun didengar komplotan empat penipu yang langsung bergerak ingin membuktikan kesaktiannya. Abu Nawas yang sedang makan di warung, hanya dengan mengacungkan tongkatnya saja diijinkan pergi tanpa harus membayar.
Komplotan empat penipu itu sangat tertarik dan mengaku ingin membeli tongkat Abu Nawas. Tawar-menawar berlangsung sangat alot, dan Abu Nawas hanya bersedia menjual tongkatnya dengan harga setara lima ekor onta. Meski mahal, komplotan empat penipu akhirnya membayar tongkat Abu Nawas dengan uang yang disepakati.
Setelah tongkat terbayar Abu Nawas secepatnya pergi meninggalkan pasar. Sementara Abu Nawas dalam perjalanan pulang, komplotan empat penipu bergerak menuju restoran termewah di dekat pasar. Mereka memesan makanan termahal dan minuman termewah, memakannya banyak-banyak sambil tertawa-tawa. Seusai makan penipu itu mengacungkan tongkatnya pada pemilik restoran. Tentu saja pemilik restoran itu marah dan memanggil tukang pukul untuk menangkap kempatnya..
“Abu Nawas bisa makan tanpa bayar, bagaimana aku tidak? Dia juga Cuma mengacungkan tongkat ini?!!”
“Kaliaan goblog! Abu Nawas sudah membayar makannya saat pesan. Kamu kan belum!”

Abu Nawas dan Ibu Sejati

Abu Nawas
Sebuah kasus berlarut-larut tanpa bisa diselesaikan selama berhari-hari. Dua orang ibu sama-sama mengaku berhak atas seorang bayi, keduanya sama-sama mengakui bayi itu sebagai anak kandungnya. Hakim di pengadilan kerajaan sulit memutuskan perempuan mana yang lebih berhak atas bayi itu.

Begitu sulitnya kasus ini diselesaikan hingga hakim pun menghadap baginda Raja untuk minta petunjuk penyelesaian. Pada persidangan berikutnya baginda raja turun tangan dan menjumpai dua ibu yang bertikai.

Tujuh Burung Gagak

burung gaagak
Sepasang suami istri yang telah mempunyai tujuh anak laki-laki sangat ingin memiliki anak perempuan. Mereka terus berdoa sampai akhirnya mendapatkan anak perempuan. Namun kegembiraan itu terganggu oleh kondisi anak perempuan yang sangat kecil dan sakit-sakitan.

Tabib yang ditemui memberikan resep agar anak itu dimandikan dengan air dari suatu sumur. Maka disuruhlah anak laki-lakinya untuk mengambil air di sumur tersebut. Meski ayahnya hanya memerintah seorang anak, enam anak lainnya turut berangkat karena ingin turut menolong adiknya. 

Ketika mereka berusaha mengisi kendi, kendi tersebut jatuh ke dalam sumur. Mereka terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa.

Abu Nawas Memenjarakan Angin

abu nawas
Abu Nawas seolah jadi objek yang tidak akan ada hentinya untuk dijebak. Berbagai pertanyaan, perintah, tugas, dan permintaan yang aneh-aneh selalu disodorkan padanya. Hari ini pun Abu Nawas mendapat perlakuan yang sama. Ia dipanggil menghadap Raja.

Sesampai di istana Abu Nawas disambut Baginda Raja dengan senyuman. “Akhir-akhir ini aku sering dapat gangguan perut,” kata Baginda memulai. “Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin.”

“Mohon ampun tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil menghadap?” tanya Abu Nawas was-was.

“Aku ingin engkau menangkap angin dan memenjarakannya.”

Keledai dan Muatannya

keledai

Seorang pedagang menuntun keledainya saat melewati sebuah sungai yang dangkal. Mereka telah melalui sungai tersebut berkali-kali tanpa pernah mengalami satu pun kecelakaan, tetapi kali ini keledainya tergelincir dan jatuh tepat saat mereka berada di tengah-tengah sungai. 

Ketika pedagang tersebut membawa keledainya ke pinggir sungai dengan selamat, sebagian besar garam yang diangkutnya di punggung keledai telah mencair dan larut ke dalam sungai. Merasa gembira karena muatannya telah berkurang jadi ringan, sang keledai menjadi tertawa-tawa melanjutkan perjalanannya.

Semut dan Belalang

belalang dan biolanya
Pada suatu siang di akhir musim gugur, sebuah keluarga semut yang telah bekerja keras mengumpulkan makanan sepanjang musim panas, mengeringkan butiran-butiran gandum yang telah mereka kumpulkan. Saat itu seekor belalang yang kelaparan, dengan sebuah biola di tangannya datang dan memohon dengan sangat agar keluarga semut itu memberikan sedikit makan untuk dirinya.


"Apa!" teriak sang Semut dengan terkejut. 

Saudagar Jerami

saudagar jerami
Alkisah ada seorang pemuda miskin bernama Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal di lumbung rumah majikannya.


Suatu hari Taro pergi ke kuil untuk berdoa, "Wahai Dewa Rahmat! Aku telah bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak berkercukupan,... tolonglah aku agar hidup senang."


Sejak saat itu setiap selesai bekerja, Taro pergi ke kuil. Suatu malam, sesuatu yang aneh membangunkan Taro. Udara di sekitarnya menjadi bercahaya lalu muncullah suara.
"Taro, dengarkan baik-baik. Peliharalah baik-baik benda yang pertama kali kau dapatkan esok hari.

Alibaba dan 40 Penyamun


ali baba
Di negeri Persia, hidup 2 orang bersaudara yang bernama Kasim dan Alibaba. Alibaba adalah adik Kasim yang hidupnya miskin dan tinggal di daerah pegunungan. Ia mengandalkan hidupnya dari penjualan kayu bakar yang dikumpulkannya. Kondisi ini berbeda dengan abangnya, Kasim yang hidup kaya raya tetapi serakah dan tidak pernah mau memikirkan kehidupan adiknya.


Suatu hari ketika Alibaba pulang dari mengumpulkan kayu bakar, ia melihat segerombol penyamun yang berkuda. Alibaba segera bersembunyi karena takut dibunuh. Dari tempat persembunyiannya Alibaba memperhatikan para penyamun yang sedang sibuk menurunkan harta rampokannya

Balas Budi Burung Bangau


burung bangau

Dahulu kala di suatu tempat di Jepang hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Kerjanya mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Dengan uang hasil penjualan kayu itulah ia membeli makanan. Hal seperti itu terus dilakukannya setiap hari, hingga pada suatu hari ia mendapatkan pengalaman yang luar biasa.


Ketika berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju. Setelah didekatinya ternyata seekor burung bangau telah terjerat perangkap. Burung kaki panjang itu meronta-ronta ingin melepaskan diri. Yosaku, karena tidak tega menyaksikannya, segera melepaskan burung itu dari perangkap.


Bangau itu pun sangat gembira. Ia pun terbang berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum akhirnya terbang menjauh di angkasa.

Tukang Sepatu dan Liliput

tukang sepatu
Dahulu kala, di sebuah kota tinggal sepasang Kakek dan Nenek pembuat sepatu. Mereka sangat baik hati. Si kakek yang membuat sepatu sedangkan nenek yang menjualnya. Uang yang didapat dari setiap sepatu yang terjual selalu dibelikan makanan yang banyak untuk dibagikan dan disantap oleh orang-orang jompo yang miskin dan anak kecil yang yatim. Karena itu walau sudah membanting tulang, uang mereka selalu habis.


Ketika uang mereka benar-benar habis, dengan kulit bahan sepatu yang tersisa, kakek membuat sepatu berwarna merah. Kata Kakek pada istrinya, “Kalau sepatu ini terjual, kita bisa membeli makanan untuk Hari Raya nanti."


Tak lama setelah itu lewatlah seorang gadis kecil yang tak bersepatu di depan toko mereka. “Kasihan sekali gadis itu... Di tengah cuaca dingin seperti ini ia tidak bersepatu," pikir si Nenek.

Aladdin dan Lampu Wasiat

lampu wasiat
Di Persia tinggal seorang Ibu dengan anak laki-lakinya bernama Aladdin. Suatu hari datang seorang laki-laki mendekati Aladdin yang asyik bermain. Laki-laki ini mengakui Aladdin sebagai keponakannya. Dengan seijin ibunya laki-laki ini mengajak Aladdin pergi ke luar kota. Mereka menempuh perjalanan yang jauh hingga Aladdin merasa kecapaian. Saat mengeluh pada pamannya ia malah dibentak dan disuruh mencari kayu bakar. Aladdin tak berani menolak karena diancam akan dibunuh. Aladdin pun sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya. Ia ternyata seorang penyihir. 

Laki-laki penyihir itu menyalakan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. "Kraak…" tiba-tiba tanah berlubang seperti sumur. Di dalam sumur itu tersedia tangga hingga ke dasar.
“Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu", seru si penyihir.
"Tidak! Aku takut turun ke sana," jawab Aladdin. Penyihir itu pun mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya pada Aladdin.
"Ini cincin ajaib. Ia akan melindungimu," kata penyihir. Akhirnya Aladdin mulai menuruni tangga dengan takut. Sesampai di dasar sumur ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah permata dan lampu yang ada di sana dibawa, ia kembali menaiki tangga. Tetapi celaka, sesampai di atas, ternyata pintu sumur sudah tertutup. 

"Cepat berikan lampunya!" seru penyihir.
"Tidak!” kata Aladdin memberanikan diri “Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar," jawabnya. Setelah berdebat, si penyihir mulai tidak sabar dan akhirnya "Brak!" pintu lubang ditutup oleh si penyihir yang langsung meninggalkan Aladdin terkurung di dalamnya.
Aladdin menjadi sedih. "Aku lapar, Aku ingin bertemu Ibu, Tuhan, tolonglah aku," ucap Aladdin. Aladdin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, udara di sekeliling Aladdin memerah dan asap membubung. Bersamaan dengan itu muncul raksasa.
Tentu saja Aladdin ketakutan. "Maafkan saya Tuan, … Saya telah mengagetkan Tuan. Saya peri cincin, dan siap mengabdi pada Tuan yang memakai cincin.” 

"Oh, kau peri cincin,” kata Aladdin setelah sadar apa yang terjadi. “Kalau mengabdi pada tuanmu, sekarang bawalah aku pulang ke rumah."
"Baik Tuan, naiklah kepunggungku agar kita bisa pergi dari sini," ujar peri cincin. Dalam waktu singkat Aladdin sudah sampai di depan rumahnya. "Saya sudah selesai bertugas. Kalau tuan memerlukan, panggillah dengan menggosok cincin." 

Aladdin pun menceritakan pengalaman ini pada ibunya. "Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya?" Kata Ibu Aladdin sambil membersihkan lampu itu. "Syut !" Tiba-tiba asap membubung dan muncullah seorang raksasa peri lampu.
"Sebutkan perintah Nyonya, saya akan melaksanakan tugas itu." kata peri lampu. Aladdin yang sudah pernah mengalami hal yang sama segera member perintah. 

"Kami lapar. Sekarang juga siapkan makanan yang lezat". Dalam waktu singkat peri lampu berkelebat dan kembali dengan makanan, kemudian menyuguhkannya. "Jika ada yang diinginkan, panggil saya dengan menggosok lampu itu," kata peri lampu.
Hari-hari berlalu, bulan bergulir dan tahun bertambah. Aladdin hidup bahagia bersama ibunya, hingga beranjak jadi pemuda. Suatu hari seorang Putri Raja lewat di depan rumahnya. Ia terpesona dan jatuh cinta. Aladdin pun menceritakan keinginan itu pada ibunya.
" Aladdin, tunggulah, ibu akan mengusahakan keinginanmu." Ibu Aladdin pergi ke istana raja dengan membawa permata yang pernah diperoleh Aladdin. 

"Baginda, saya datang membawa hadiah dari anak laki-laki hamba." Raja amat senang. "Wah, ... anakmu pasti seorang pangeran yang tampan. Ijinkan aku datang ke Istana kalian bersama putriku".

Setiba di rumah, Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri mendirikan istana. Aladdin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu terbang dengan membawa Istana megah.
"Tuan, ini Istana Anda." Keesokannya Raja pun benar-benar dating bersama putrinya.
"Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu?" tanya Raja setengah meminta. Aladdin sangat gembira mendengarnya. Mereka pun melaksanakan pernikahan. 

Sementara itu nun jauh di tempat lain, si penyihir menyaksikan semua kejadian yang dialami Aladdin melalui bola kristal. Ia pun pergi ke tempat Aladdin dengan berpura-pura menjadi penjual lampu. 

“Barter-barter!! Tukarkan lampu lama anda dengan lampu model baru!" Permaisuri yang melihat lampu usang Aladdin segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu dan memerintah peri lampu memboyong istana serta isinya ke rumah penyihir. Ketika pulang Aladdin sangat terkejut. Ia puyn memanggil peri cincin dan bertanya padanya. "Kalau begitu, kembalikan lagi semuanya kepadaku," seru Aladdin. "Maaf Tuan, tenaga saya tidak sebesar peri lampu," ujar peri cincin. "Kalau begitu biarkan aku yang mengambilnya. Sekarang antarkan aku ke sana." 

Saat itu juga mereka sampai di Istana. Aladdin menyelinap masuk mencari kamar sang Putri. "Penyihir itu tidur karena kebanyakan minum bir," ujar sang Putri. "Baik! Aku akan mengambil lampu ajaib itu agar kita bisa akan menang," jawab Aladdin. Aladdin mengendap-endap mendekati penyihir yang tertidur. Lampu yang dipegangi penyihir menyembul dari kantungnya. Aladdin pun mengambilnya dan segera menggosok. 

"Singkirkan penyihir itu!" seru Aladdin. Saat terbangun penyihir itu mencoba menyerang tapi peri lampu langsung membantingnya hingga tewas. "Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan Istana ini ke Persia." Mereka pun hidup bahagia, sejahtera selama-lamanya.

Asal Muasal Guntur


Ketika peri dan manusia hidup berdampingan, mereka rukun dan saling membutuhkan. Mekhala, si peri cantik dan pandai, berguru pada Shie seorang pertapa sakti. Tentu saja Guru Shie juga mempunyai murid-murid yang lain, salah satunya yaitu Ramasaur, seorang murid laki-laki. Murid ini selalu iri pada Mekhala yang lebih pandai, walau sebenarnya Guru Shie tetap menyayangi keduanya dan tidak pernah membedakan mereka. 

Suatu hari Guru Shie memanggil kedua muridnya. Kepada mereka sang Guru memberikan tugas, "Besok berikan padaku secawan air embun. Siapa yang lebih cepat mendapatkan, dia beruntung dengan hadiahku. Embun itu akan kuubah jadi permata yang bisa mengabulkan permintaan apapun."
Murid Mekhala dan Ramasaur diam tertegun. Terbayang oleh Ramasaur ia akan meminta harta dan kemewahan, hingga jadi yang paling kaya di negerinya. Sementara itu Mekhala malah berpikir keras, bagaimana caranya mendapatkan secawan embun. “Sudah barang tentu tidak akan mudah,” gumam Mekhala. 

Keesokan paginya kedua murid itu mulai memasuki hutan. Ramasaur mencabuti rumput dan tanaman kecil lain, namun hasilnya sungguh mengecewakan.

Gadis Penjual Korek Api

Di malam natal orang-orang berjalan dengan wajah gembira memenuhi jalanan kota. Di jalan itu seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api. "Mau beli korek api?" begitu ia tawarkan setiap kali dilewati orang.
"Ibu, belilah korek api ini," pintanya pada seorang wanita.
"Aku tidak butuh korek api, di rumah ada banyak."

Sampai beberapa lamanya, tetap tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu. Padahal kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, ia akan dipukuli oleh ayahnya.