Tampilkan postingan dengan label cerita wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita wayang. Tampilkan semua postingan

Sengsara Drupadi karena Dadu

Yudhistira kalah taruhan. Hartanya beralih ke tangan Kurawa, begitu juga kerajaannya, pun adik-adik dan dirinya sendiri. Bahkan istrinya pun, Drupadi, sudah dipertaruhkan dan kalah. Drupadi kini diambil Dursasana dengan diseret-dijambak rambut panjangnya.
Drupadi menjerit sejadi-jadinya namun Yudhistira membisu. Arjuna, Nakula dan Sadewa pun membeku. Bima menahan marah dalam gerahamnya yang gemeretak.
”Aku maklum saat kami  -adik-adikmu-  kau jadikan barang taruhan. Kamu kakak mbarep dan kami adikmu, jadi kami manut. Kami rela jadi budak karena pertaruhanmu. Saat kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami diam. Itu badanmu. Tapi Drupadi kamu lepas juga. Adakah kamu punya hak atas dirinya?”

Bambang Ekalaya

Bambang Ekalaya
Bambang Ekalaya tak pernah menyesali nasibnya. Keinginannya meguru pada Drona begitu kuat, namun bekalnya lebih dulu habis sebelum sampai di Hastinapura. Tak mungkin baginya minta belajar pada guru tanpa upeti tanda bakti. Tak mungkin kembali ke Keraton karena tekadnya bulat ingin ngangsu ngelmu.
“Bagaimana gelandangan sepertiku bisa belajar?” Ia bergumam hampir tak terucap karena nafasnya terengah. Maka Bambang Ekalaya pun mulai memahat. Sinar bulan dan api obor jadi penerang, begitu terus tiap hari dan malam hingga patung bangunannya hampir sempurna. Ia membentuk sosok tubuh berwajah peyot tua, tangan kanan di depan perut dengan tangan kiri memegang gandewa.
“Salam hormat saya, guru, …” kata Bambang Ekalaya menghormat pada guru yang baru selesai dipahatnya.

Pandu Swarga

Pandu

Badan besar Werkudoro gemetaran. Ia baru saja mendapatkan impen bahwa ayahnya Pandu tidak diterima masuk swarga, namun terpenjara di neraka karena dosa-dosanya. Werkudoro pun age-age mengundang saudaranya untuk berembug di hutan dekat Kurusetra. 

Lha dalah, berita berkumpulnya Pandawa di Kurusetra ini pun tersiar sampai ke Hastina. Sengkuni dan Dorna menghasut sejadi-jadinya, menyatakan Pandawa sedang memasang guna-guna agar memenangi perang Baratayudha. Prabu Baladewa pun marah dan sanggup memusnahkan Pandawa. Maka rombongan Kurawa pun berangkat ke Kurusetra diikuti Adipati Karna dan Prabu Baladewa.

Duryudana Gugur

duryudana
Tentara Hastina telah kehilangan panglima perang akibat kematian Prabu Salya di tangan Yudistira. Duryudana lari masuk hutan karena ketakutan hingga kubu Kurawa kocar-kacir tanpa pemimpin. Kesudahannya, para tentara Kurawa menarik diri ke perkemahan. 

Seminggu berlalu tanpa ada kegiatan tempur lagi. Kubu Pandawa sebenarnya selalu siaga dengan tentaranya. Bima masih memimpin peleton penggempur dengan Arjuna di sayap kanan dan Nakula Sadewa di sayap kiri. Namun kubu Kurawa tak tampak menyiapkan dirinya untuk peperangan.

Sepekan berlalu dengan anyep. Beberapa raja dan adipati yang datang dari blok negara pendukung Hastina telah pulang ke tempat asalnya, bahkan beberapa sisa tentara mengaku takluk di hadapan Pandawa. Tentara taklukan ini mengadu ke Pandawa bahwa Duryudana menghilang ke hutan.

Kurawa Lahir

Dewi Gendari
Destarastra dirundung sedih lebih-lebih isterinya --Dewi Gendari. Mereka bersedih jalaran kandungan Dewi Gendari sudah berusia tiga tahun namun belum membawa tanda bakal segera lahir.

Dalam masa itu angen-angen Dewi Gendari tak sekalipun lepas dari Prabu Pandu Dewanata. Kebencian mendorongnya berdoa agar bisa menumpas keturunan Pandu –entah kapan waktunya-- sebagai pelampiasan dendam. Isteri Adipati Hastinapura ini senantiasa gelisah dan hampir putus asa akibat memendam dendam serta kandungannya yang tak normal. 

Dewi Gendari tak pernah tentram. Lebih-lebih kini Dewi Kunti --permaisuri Prabu Pandu-- telah melahirkan putera pertama --Raden Puntadewa, bahkan juga hampir melahirkan putera keduanya. Kegelisahan Dewi Gendari menjadikan darahnya mendidih.

Gatutkaca Lahir

Gatutkaca
Rakyat Pringgondani bergembira mendengar kabar kehamilan Dewi Arimbi, istri Bima. Mereka bersukacita menyambut calon penerus Raja Pringgandani. 

Saat seluruh putra Pandawa bersama Batara Kresna dan punakawan berkumpul, terdengarlah tangisan bayi wayang. Putra mahkota laki-laki telah lahir dengan sehat. 

Dewi Arimbi terlihat senang menyambut Bima diiringi seluruh saudara. Tak jauh darinya tergolek bayi wayang laki-laki gagah layaknya ksatria trah dewa. Ari-arinya belum diputus, dan ternyata tak ada satu senjatapun yang berhasil memotongnya. 

Bima sangat gusar dan minta tolong saudara-saudaranya memotong tali ari-ari Jabang Tutuka.

Kresna Duta

kresna duta
Pandawa telah berhasil memukul mundur penyerbu Wiratha, baik yang dari Astina maupun para wayang suruhan Prabu Susarman. Pandawa pun sudah merampungkan masa pembuangan di hutan selama 12 tahun ditambah setahun penyamaran. Kini sudah datang titi wanci bagi anak-anak Pandu itu untuk nagih janji pada Kurawa. 

Mereka akan segera menempati Astina dan Indraprasta lagi sesuai kesepakatan dahulu. Maka untuk melaksanakan misi menagih janji itulah Pandawa menyiapkan beragam hal yang diperlukan. 

Setelah berunding dengan banyak pihak, Raja Wiratha Prabu Matswapati memutuskan untuk mengirim utusan Pandawa ke Astina. Prabu Matswapati eyangnya Pandawa, Raja Pancala Prabu Drupadi mertua Pandawa, dan Ibu mereka Dewi Kunthi yang hadir dalam sidang di Istana Wiratha sepakat mengutus Drupadi sebagai utusan. Maka Raja Pancala itupun budal ke Astina mengemban misi menghadap Duryudono. 

Pandawa Muksa

pandawa
Suatu ketika Pandawa mengadakan perjalanan bersama Kunthi, Sri Kresna serta Drupadi. Dalam perjalanan itu mereka bertemu seorang nenek yang menimba di sumur. Anehnya, setiap kali mendapatkan air selalu dituangnya kembali ke sumur yang sama. Ia melakukan hal itu terus-menerus seperti tanpa lelah, dibolan-baleni begitu lagi dan begitu lagi. Jalaran ingin tahu maksud pekerjaannya, Sri Kresna pun takon pada nenek –yang ternyata bernama Nyai Ruminta.

Nyai Ruminta mengaku sedang berusaha mengambil kembali hartanya yang dulu sengaja diceburkan ke dalam sumur. Nalika perang Baratayuda berlangsung ia sengaja nyingitake hartanya di sumur itu agar tidak dirampok Kurawa. Kini setelah perang berakhir ia akan njupuk balik hartanya, namun ternyata tak semudah yang pernah diduganya.

Sebagai janda yang mulai tua, pantas kiranya kalau ia minta Pandawa untuk mengangkat kembali harta yang klelep di sumur itu. Nyai Ruminta bahkan mengutuk Pandawa agar dihukum Tuhan manakala gagal memberikan bantuan.

Arjunasasrabahu


arjunasasrabahu
Wayang Arjunawijaya, putra tunggal Prabu Kartawijaya ini setelah dinobatkan sebagai Raja Maespati dikenal sebagai Prabu Arjunasasrabahu. Ini gelar yang diberikan karena wujudnya bisa malih jadi raseksa segede gunung anakan dengan seratus kepala dan bertangan seribu yang memegang senjata sakti.

Perubahan wujud ini teradi setelah ia bertiwikrama tatkala memerangi Bambang Sumantri pada perebutan putri Magada, Dewi Citrawati. Bambang Sumantri yang sakti telah ngasorake lebih dari seribu raja yang ingin memperebutkan Dewi Citrawati.  Ia bersedia menyerahkan Dewi Citrawati bila Prabu Arjunawijaya mampu mengalahkan dirinya, sesuai tekadnya sejak meninggalkan pertapaan Ardisekar, hanya mengabdi pada raja yang mengalahkan kesaktiannya.

Sebenarnya Arjunawijaya memang Bhatara Wisnu yang menitis. Ia raja besar yang sinembah sesama raja, sekti mandraguna serta pilih tanding. Namun begitu ia cinta damai dan berusaha menyelesaikan sengketa lewat musyawarah mufakat. Sifatnya ini telah menjadikan wibawanya memancar. Tak hanya gagah, Prabu Arjuna Wijaya juga sangat ganteng mirip Bhatara Kamajaya. 

Serat Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

begawan wisrawa
Dasamuka atau Rahwana, meskipun berwatak candala dan gemar pertumpahan darah sebenarnya adalah anak Begawan sepuh-sakti-linuwih bernama Wisrawa dan ibu Dewi Sukesi yang jelita. Bagaimana dua manusia yang sempurna melahirkan raksasa-buruk-rupa-angkara-murka?

Al kisah, rahasia para dewata mengenai kehidupan di dunia ada dalam Serat Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. (Serat = ajaran, sastrajendra = perihal raja, hayuningrat = kedamaian, dan pangruwating = merubah jadi baik, diyu = raksasa atau keburukan). Raja dalam sastrajendra merujuk bukan pada makna harfiah, melainkan sifat yang harus dimiliki manusia dalam menguasai hawa nafsu dan pancaindranya, merubah keburukan jadi kebaikan. 

Jadi Serat Sastrajendra adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk

Sesaji Aswomedorabu

prabu dasarata
Di luar kebiasaan, Prabu Dasarata tinggal di paseban sendirian. Biasanya sang Prabu jengkar mendahului semua pejabat kerajaan, tapi kini ketika rekyono patih, menteri-menteri, nayoko-nayoko projo, dan semua wayang sudah meninggalkan balairung, Prabu Dasarata terhenyak di singgasananya. Dipandangnya lantai paseban yang gilar-gilar membentang luas. Matanya menerawang kedepan, melihat alun-aun dengan sepasang pohon wringin kurungnya.

Prabu Dasarata dan Permaisuri Dewi Susalyo menikah cukup lama tetapi belum juga punya keturunan. Hal ini merisaukan hatinya, karena masalah keturunan bukan hanya urusan pribadi melainkan sudah jadi masalah negara.

Cupu Manik Astagina

resi gotama
Al kisah ada sebuah pertapaan di Gunung Sukendra yang dihuni Resi Gotama dan keluarganya. Resi Gotama keturunan Bathara Ismaya, putra Prabu Heriya dari Mahespati. Ia memiliki seorang kakak bernama Prabu Kartawirya yang menurunkan Prabu Arjunasasrabahu. Karena jasa dan baktinya pada para dewa, Resi Gotama dianugrahi seorang bidadari kahyangan bernama Dewi Windradi. Dalam perkawinan ini mereka dikaruniai tiga orang anak Dewi Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi.


Karena besarnya rasa cinta pada Dewi Anjani, Dewi Windradi mengabaikan pesan Bhatara Surya. Ia memberikan pusaka kedewataan Cupumanik Astagina kepada Anjani. Padahal ketika memberikan Cupumanik Astagina kepada Dewi Windradi, Bhatara Surya telah mewanti-wanti untuk tidak sekalipun menunjukkan, apalagi menyerahkan benda kedewatan itu kepada orang lain, walaupun itu putranya sendiri

Rahwana Lahir

rahwana
Tersebutlah Prabu Danaraja yang memerintah Negeri Lokapala. Ia ingin mempersunting puteri Negeri Langkapura, Dewi Sukesi yang sedang disayembarakan. Agar niatnya berhasil, Sang Prabu mohon bantuan ayahnya, Bagawan Wisrawa, menjadi wakil dalam sayembara itu. 

Konon Bagawan Wisrawa adalah seorang pendeta yang amat sakti. Maka berangkatlah Sang Bagawan ke Langkapura untuk ikut sayembara.

Bagawan Wisrawa akhirnya berhasil memenangkan sayembara tersebut. Tapi beda dengan niat kedatangannya semula yang ingin membantu ananda Danaraja, Bagawan Wisrawa berubah pikiran. Ia sendiri berhasrat memperistri Dewi Sukesi dan lupa akan puteranya sendiri. Maka kawinlah Sang Bagawan dengan puteri Langkapura itu.

Kresna Tiwikrama

kresna
Suatu ketika Prabu Kresna datang untuk menyampaikan tuntutan para Pandawa akan haknya atas sebagian kerajaan Astina yang dikuasai Kurawa. Sudah beberapa lama Astina memang dikuasai Kurawa lewat permainan dadu. Di luar dugaan, ternyata kedatangan Kresna ini mendapat sambutan yang meriah dan formal dari para petinggi Astina.


Dalam pertemuan tersebut para sesepuh Kurawa yang terdiri dari Dewi Gandari, Destarasta, Resi Bisma, dan Pandita Durna menyatakan dukungannya atas maksud yang disampaikan Kresna. Kresna yang datang dengan ditemani oleh dewa-dewa Kahyangan seperti Janaka, Ramaparasu, Kanwa, dan Narada, mendapat perlakuan yang menyenangkan.


Prabu Suyudana yang juga hadir di tempat itu dan hanya terdiam mendengar sabda Kresna, terlihat menyimak semua nasehat para sesepuh istana. Namun setelah menerima isyarat dari Karna, Suyudana pamit meninggalkan acara pertemuan.

Petruk Jadi Ratu

petruk
Suasana hening seperti menyergap, andum rasa mencekam di istana Hastina. Raut muka setiap wayang menjadi tegang, udara ketidak-puasan kemampul di mana-mana. Sang nata Duryudana amung membisu tetapi penuh pikiran, seperti akan menghardik tetapi tak ada sasaran. Bahkan darah di wajah para adipati banjir menderas, tampak dari mimik mereka yang memerah.


Durna, Sengkuni, Baladewa, Karna, Jayadrata, Dursasana, keseluruhannya –tanpa kecuali- tegang, lebih-lebih lagi para bala kurawa yang jumlahnya ada satus wayang.


Penyebabnya, sebuah negara kecil berjuluk Sonyawibawa muncul tiba-tiba di sudut negeri Hastina. Hadirnya seperti thukul dari dalam bumi, atau seperti menetes dari mendung di saat gelap.

Alap-Alapan Dursilawati

dursilawati
Dursilawati bikin geger. Adik Prabu Suyudana yang telah bertunangan dengan Jayadrata ini hilang tak diketahui parannya, maka sang Raja pun mengangkat Adipati Karna sebagai Kepala Satuan Tugas pencarian Dursilawati.
Upaya pencarian pun segera diawiti. Dalam pencarian itu rombongan berpapasan dengan Kala Bancuring, Kala Mingkalpa dan Kala Pralemba sebagai utusan Prabu Kurandageni dari Tirtakadasar. Mereka berminat pada Dursilawati. Karena ngotot akan nglurug ke Astina maka terjadilah perkelahian dengan kekalahan pada utusan Kurandageni. Prabu Kurandageni yang mendapat kabar kekalahan bala tentaranya pun mengirim utusan gelombang dua dengan tugas menculik Dursilawati.

Pandowo Ngenger

pandowo
Sebuah pasamuwan agung berlangsung di Negeri Hastina  dirawuhi para petinggi kerajaan mulai dari Resi Bisma, Pandhita Durna, Patih Sengkuni, Adipati Karno dan beberapa wayang sanes. Kala itu perbincangan menyoal masa depan kerajaan Hastina dalam menghadapi musuh bebuyutannya, Pandowo. Raja Duryudono ngawiti perbincangan dengan menyampaikan tuduhan, Pandita Durna sudah berlaku abot sih dengan memberikan ilmu kadigdayan yang tidak seimbang pada murid-muridnya. Perbincangan itu pun meruncing pada ide mencelakakan Pandowo. Adipati Karno yang mencoba ngelingne buruknya ide itu malah diserang hingga meninggalkan pertemuan.

Maka rencana pun dijalankan. Pandowo diundang ke perjamuan makan. Lima bersaudara itu dijamu makan-makan serta minum miras. Dan saat Pandowo mendem karena pengaruh alkohol itulah terjadi bentrok, hingga perang antar dua kubu pun pecah. Destarata sebagai penengah meminta Pandowo menyingkir demi mencegah perang  susulan. Pandowo mengalah dan meninggalkan Hastina, namun Kurawa terus nguber-nguber ingin memusnahkannya.

Saat menyingkir menjauhi Hastina, Arjuna dan para punokawan didatangi Batara Indra dan mengajak mereka ke Kayangan. Di sana Arjuna diberi petunjuk agar ngenger di Kerajaan Wirata dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Maka  Mereka pun menyandang nama baru. Puntadewa berganti nama jadi Kanta, Werkudoro menyandang nama Balawa, Arjuna berubah Wrihatmolo, Nakula dan Sadewa masing-masing Tripala dan Grantika. Drupadi mengubah namanya jadi Salindri atau Endang Malini.

Pandawa pun datang ke Wirata. Saat itu patih Kencoko dan para hulu balang mengecam kerajaan Wirata pimpinan Prabu Matsyapati. Patih Kencoko mengklaim nama kerajaan Wirata menjadi masyhur karena kehebatan dirinya. Karena itulah mereka menganggap pantas melakukan kudeta untuk menggulingkan Matsyapati.

Kedatangan Pendawa ke Wirata ternyata tidak disambut baik. Mereka tidak diperkenankan ngenger di kraton bersama Matsyapati melainkan diarahkan ngenger di Kepatihan. Di tempat ini kecantikan Salindri alias Drupadi ternyata ndodog hati Patih Kencoko. Saat patih ngeres itu akan berbuat tidak senonoh, murkalah Balawa alias Werkudara hingga membunuh patih Kencoko. Pembunuhan ini ternyata direstui  prabu Matsyapati hingga keluarga Pandowo pun diterima untuk tinggal di lingkungan kraton Wirata. Mereka menjadi abdi.

Anoman Duta

Anoman Duta
anoman

Segera setelah Dewi Shinta diculik Rahwana, Prabu Rama ngutus  Anoman untuk melakukan pengintaian ke negeri Alengka. Sebelum Anoman berangkat, tiba-tiba datang Anggada yang mengajukan diri sebagai duta dan mengusulkan pembatalan Anoman. Karena rebutan tugas mulia, Anoman dan Anggada pun tarung adu kekuatan. Sebagai jalan tengah Prabu Rama mengadakan uji kelayakan  bagi kedua wanara.
Maka kelebihan masing-masing wayang pun diuji. Saat ditanya berapa lama waktu tempuh ke Alengka, Anoman nyanggupi 10 hari tapi Anggada yakin bisa 7 hari. Ketika Anoman mudhun 5 hari, Anggada menurunkannya jadi 3 hari. Akhirnya Anoman memenangkan persaingan dengan menyatakan kesanggupan tiba di Alengka dalam waktu sedina, gak perlu menghitung hari. Maka berangkatlah Anoman ditemani Semar, Gareng, Petruk dan Bagong sebagai batur.
Demi mempercepat langkah, para punakawan dimasukkan ke kancing gelung Anoman. Mula-mula Anoman pergi mabur pethit ke kahyangan menghadap Batara Surya. Ke hadapannya Anoman matur agar matahari dihentikan. Dengan begitu hari akan terus bertahan siang, anoman dapat mencapai Alengka dalam sehari seperti janjinya. Dengan perdebatan dan perkelahian Batara Surya tetap keberatan kalau harus ngendheg matahari. Baru saat Semar yang meminta, Batara Surya memenuhi keinginan Anoman. Matahari pun dipause.
Seperti yang diperkirakan, penerbangan Anoman ke Alengka mengalami gangguan. Sebuah kekuatan telah menyedot Anoman ke lautan, dan ternyata Wil Kataksini, penjaga lautan Alengka menyedot Anoman  masuk ke mulutnya. Anoman pun kesedot  masuk ke perut raksasa ini. Dengan kekuatannya ia coba menendang, mencakar dan berontak di dalam perut Wil Kataksini. Ketika dikitik-kitik , Wil Kataksini memuntahkan Anoman, kemudian ia limbung, roboh, dan ...  tewas. 
Anoman kebanting jatuh di  pegunungan. Karena badannya lemah perjalanan berikutnya ditempuh lewat jalan darat. Anoman begitu lemah akhirnya semaput pingsan. Untung saja ada Punakawan yang jadi penolong. Mereka membawa Anoman ke Goa Windu tempat seorang pertapa wanita bernama Dewi Sayempraba, seorang bidadari janda Prabu Dasamuka. Di tempat ini Anoman dirawat Dewi yang cantik dan berbudi. Anoman tak hanya sembuh dari sakitnya ananging  juga terpedaya  kecantikannya. Saat Anoman berpamitan, Dewi Sayempraba menyatakan hajatnya agar diperistri Anoman namun ditolak.
Setelah meninggalkan goa tiba-tiba Anoman melihat seberkas cahaya menyilaukan hingga pandangannya terganggu. Anoman mengalami kebutaan sementara.  Anoman merasa sedih karena gagal melaksanakan tugas Prabu Rama, tapi Punakawan membantu Anoman mencari pertolongan. Tangis Anoman didengar seekor garuda. Burung bernama Sempati itu mencoba mengobati Anoman, meneteskan liurnya dan mohon pada dewa. Saat Anoman sembuh, Sempati mengisahkan Jatayu, saudaranya, telah tewas dihajar Dasamuka. Saat itu Jatayu mencoba menyelamatkan Dewi Sinta.
Kini Anoman telah pulih, mampu melesat ke  angkasa lagi dan langsung menuju Istana Alengka. Anak Dasamuka, Indrajid yang berjaga di luar Istana mengetahui kedatangannya. Ia pun menggeledah istana mencari makhluk yang baru melesat datang. Sementara Anoman, sudah berada di taman Asoka bersembunyi di atas pohon Nagasari.
Di taman itu Prabu Dasamuka katon  kecewa mendapati dewi Sinta belum mau dibawa masuk Istana. Karena terlanjur berhasrat, Prabu Dasamuka berniat ngruda peksa Dewi Sinta. Untung saja niat ini dapat diurungkan  Dewi Trijatha anak Wibisana. Prabu Dasamuka pun meninggalkan taman Asoka. Kini tinggal Trijatha nglipur Dewi Sinta di bawah pohon Nagasari. Anoman pun mlumpat turun, mengenalkan diri sebagai utusan Prabu Rama. Namun sebelum perbincangan itu tuntas, mereka sudah dikepung Indrajid bersama pasukannya. Anoman digujer  tanpa perlawanan. Ia dibawa ke pertemuan agung tempat Prabu Dasamuka bersama Patih Prahasta, Kumbakarna, Sarpakenaka, Wibisana, dan para putera Prabu Dasamuka sedang ngobrol. 
Atas perintah Prabu Dasamuka Anoman dicencang tangan dan kakinya dan diikat pada tiang untuk dibakar urip-uripan. Maka kayu bakar pun ditumpuk menggunung di sekeliling Anoman. Tanpa sepengetahuan yang lain, Togog, seorang abdi Alengka jelmaan Sang Hyang Antaga memberikan air sacegukan  untuk minum Anoman. Dengan sekali teguk saja Anoman merasakan tubuhnya segar lagi. Mereka pun membuat kesepakatan,  Togog akan menandai rumahnya agar dapat dilindungi dari mara bahaya.
Prabu Dasamuka pun memimpin pembakaran Anoman dengan nyumet kayu. Tingginya api yang membubung menenggelamkan Anoman, dan saat api kian besar, Anoman mletik terbang membawa api dengan tubuhnya. Dilemparkannya api-api itu ke pojok-pojok istana, hingga Alengka berubah jadi segara geni. Sementara seluruh bagian berubah jadi arang, tersisa sebuah gubug cilik tempat tinggal Tejamantri Togog. Di rumah inilah Prabu Dasamuka dan keluarga besarnya ngungsi. Puas dengan karyanya, Anoman pun meninggalkan Alengka kembali ke Pancawati. Saat Anoman balik ke Pancawati Matahari mulai lingsir ke barat. Anoman pun melapor, Dewi Sinta hanya mau kembali bila dijemput Prabu Rama.

Bima Bungkus

bima
Wayang Bima dikenal dengan nama Bratasena alias Werkudara, merupakan tokoh Pandawa yang nduweni  keistimewaan sejak lahir. Kelahirannya dari rahim ibu Kunti Talibrata bermula dari keabnormalan. Ia lahir dalam bungkus yang sulit dipecah hingga beberapa lama.
Ayah Bima, Prabu Pandhu Dewanata rumangsa mendapat cobaan dari Dewata Agung. Ia terus ngupaya dalan untuk merobek bungkus putranya itu, hingga pada suatu malam Pandhu mendapat ilham bahwa anaknya kelak bakal jadi satria perkasa berbudi luhur. Namun ada syarat untuk mencapai kondisi itu, yaitu bungkus mesti diasingkan terlebih dahulu di alas  Minangsraya. 

Alas Minangsraya terkenal gung liwang liwung, artinya hutan agung nan besar, liwang-liwung   sepi tidak biasa disaba wayang. Selain itu alas ini juga  jalma mara jalma mati, siapa jalma wayang yang datang maka ia akan mati. Maka bayi wayang bungkus itu pun dibawa  ke belantara Minangsraya oleh Harya Suman serta saudaranya para Kurawa.
Di belantara tempat pengasingan Bima, Harya Suman nemoni tanda pertumbuhan bungkus yang kian hari kian besar. Ia katon sehat, dan menurutnya akan jadi ancaman. Dalam pemikiran Kurawa, kepentingannya untuk menguasai negeri Astina bisa terancam oleh keberadaan bungkus manakala wayang itu wis tumbuh dewasa nantinya. Maka muncullah niat jahat untuk mateni  bungkus itu.
Senjata pun disiapkan untuk merobek pembungkus wayang tak berdaya itu agar bisa dibunuh selagi bayi. Anehnya bungkus yang seharusnya tak berdaya itu ternyata  tak mempan dipecah dengan aneka senjata. Tak kurang dari wayang Duryudana, Dursasana, Durmagati, Citraksa serta Citraksi rumangsa dibuat kecelik  oleh bayi wayang bungkus. Bungkus tetap utuh di dalam keadaannya, terus tumbuh,  tampak sehat dan ngatonake badan yang kuat.
Pada hakikatnya penderitaan bayi Bima di dalam bungkus merupakan tempaan alam yang menjadikannya hebat. Hantaman senjata Kurawa pun merupakan bagian dari tempaan itu. Maka Bathara Bayu pun menganugerahkan pengetahuan dan busana yang istimewa untuk Bratasena. Sumping pundhak sinumpet artinya Bima selalu menguasai ilmu kesempurnaan hidup, walau dia tidak pernah menonjolkan diri dengan berpura-pura bodoh.  Pupuk emas rineka jarot asem, maksudnya Bima punya budi pekerti luhur dengan memihak kebenaran. Bima pun memiliki gelang minangkara cinandhi rengga endhek ngarep dhuwur mburi. Maknanya senantiasa waspada sebagai hamba yang harus pasrah dan berbakti kepada Tuhan.
Bungkus bayi wayang itu baru bisa dirobek oleh Gajah Sena. Itulah sebabnya Bima juga asring disebut dengan nama Sena.

Kisah Kumbakarna

Kumbakarna
Arya Kumbakarna kuwi  adik Rahwana, putra kedua Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Sejak negaranya terlibat peperangan, bahkan semenjak terjadi perbedaan pendapat dengan Rahwana tentang Dewi Sinta, Kumbakarna ngalah dengan menyingkir ke Leburgangsa, mengasingkan diri dalam pertapaan. Kini ketika Alengka semakin terjepit, Rahwana mendesak Kumbakarna untuk terjun ke medan laga saderma  menyelamatkan negara karena hampir semua senapati telah kawon  dan gugur. Maka berangkatlah Indrajit sebagai utusan pembawa perintah kepada Kumbakarna.
Tak mudah bagi Indrajit untuk nggugah  Kumbakarna dari tapa tidurnya. Ketika berbagai cara yang ditempuh telah gagal membangunkan Kumbakarna, akhirnya dicabutlah rambut di ibu jari wayang itu. Cara  ini ternyata ampuh hingga bangunlah si raksasa terpuji. Indrajit pun menyampaikan misinya, dan ndesek Kumbakarna menemui Rahwana di Alengkadiraja.